
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudin Amali meninjau kesiapan stadion Gelora Bung Tomo (GBT) di kawasan Kecamatan Benowo, Surabaya. Kedatangan Menpora itu untuk melihat langsung GBT yang merupakan satu dari sepuluh stadion yang direkomendasi oleh PSSI untuk menjadi venue Piala Dunia U-20 tahun 2021.
Namun, Menpora tak bisa masuk ke dalam stadion GBT karena pintu utama stadion dikunci. Padahal Menpora ingin melihat kondisi terkini stadion berikut lapangan pasca terjadinya kerusuhan usai Persebaya vs PSS Sleman, Selasa (29/10) silam.
"Saya mampir ke sini untuk melihat kondisi terakhir stadion. Sayangnya, tidak bisa masuk karena pintu terkunci. Saya tidak tahu bagaimana komunikasinya, yang penting niat saya baik dalam rangka melihat kesiapan GBT," tutur Ketua Komisi II DPR RI periode 2014-2019 itu, Minggu (3/11).
Menteri asal Partai Golkar itu juga mengakui mencium bau tidak sedap saat ada di areal stadion berkapasitas 50 ribu orang itu.
"Masih tercium. Belum hilang gitu lho. Kan saya sudah tahu dari sini, baunya itu lho," ucap pejabat yang akrab disapa ZA itu kepada puluhan wartawan di GBT.
Menurut Zainudin, GBT memang layak dipakai untuk menggelar pertandingan internasional. Namun, untuk menjadi tempat pertandingan Piala Dunia U-20, masih harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh FIFA.
Syarat-syarat itu, antara lain standarisasi stadion, lapangan pendukung dan sarana prasarana yang lain. "Akses masuk dan lapangan pendukung jadi pertimbangan," tandasnya.
Dengan melihat kondisi GBT tersebut, Zainudin mengaku belum tahu apakah ada potensi GBT tak dipakai untuk venue PD U-20. "Saya tidak tahu. Saya belum ketemu Gubernur Jatim, Wali Kota Surabaya, dan stakeholder lainnya. Dengan KONI, saya sudah ngobrol informal saja," tuturnya.
Karena itu, pihaknya akan menemui gubernur, wali kota, KONI, dan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jatim. "Kita harus duduk bersama tanpa mencari siapa yang salah. Duduk bersama untuk mencari jalan keluar. Kita cari jalan keluar stadion mana yang sekiranya layak untuk ditentukan dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan FIFA," paparnya.
Pihaknya juga menegaskan FIFA telah menetapkan Indonesia sebagai tuan rumah PD U-20. Karena itu, stadion mana yang akan dipakai untuk pertandingan PD U-20, FIFA yang menetapkan.
"Yang menentukan venue itu FIFA, bukan pemerintah. Sebagai orang dari Jatim, tentu berharap rek. Kita berharap Jatim dan Bali itu menjadi tempat pertandingan," ujarnya.
Apakah hal itu bukan berarti pemerintah ikut campur tangan dalam menentukan tempat pertandingan? Zainudin menyebut campur tangan pemerintah bukan seperti itu. Bagaimanapun pemerintah ikut mempersiapkan sarana prasarana agar pelaksanaan PD U-20 berjalan sukses.
Kalau tidak ada jaminan dari pemerintah, lanjutnya, maka Indonesia tidak mendapat kesempatan menjadi tuan rumah PD U-20. Karena presiden Jokowi mengirim surat ke FIFA, kemudian ada jaminan dari Menteri Keuangan, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Tenaga Kerja, Menteri Komunikasi dan Informatika serta Kapolri, maka Indonesia bisa menang.
"Ingat, lawan kita saat penentuan tuan rumah PD U-20 itu, Brasil, Peru, dan tiga gabungan negara Arab. Dari tradisi sepakbola, kita pasti kalah dari Brasil. Lalu, dari sisi keuangan dengan tiga gabungan negara Arab, kita juga kalah. Tapi karena jaminan pemerintah, maka FIFA melihat Indonesia layak menjadi penyelenggara Piala Dunia U-20," ungkapnya.
Karena itu, Presiden FIFA terbang ke Bangkok khusus untuk menyampaikan selamat kepada Presiden Jokowi dan minta untuk supaya melakukan pengembangan sepakbola di Indonesia. (mdr/rev)