Jumat, 04 Desember 2020 15:05

​Prof Rochmat Wahab: Kader NU Kritis Dimatikan, Sami’na Waatha’na Disalahartikan

Kamis, 11 Juni 2020 19:39 WIB
Editor: MMA
​Prof Rochmat Wahab: Kader NU Kritis Dimatikan, Sami’na Waatha’na Disalahartikan
Prof. Dr. KH. Rochmat Wahab. foto: UNY

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Prof. Dr. KH. Rochmat Wahab menilai bahwa kalimat sami’na waatha’na yang kini sangat populer di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU) cenderung disalahartikan. Menurut dia, sebagian kalangan beranggapan bahwa sami’na waatha’na (kami mendengar, kami taat) itu seolah tak boleh bersikap kritis.

Sami’na waatha’na itu itba’, bukan taqlid,” kata Prof Dr Rochmat Wahab kepada BANGSAONLINE.com, Kamis (11/6/2020).

Kiai Rochmat Wahab menyampaikan itu merespons tren budaya kritis yang berkembang di lingkungan NU, terutama anak-anak muda yang berlatar belakang perguruan tinggi.

Itba’ itu artinya mengikuti, tapi tahu rasionalitasnya, tahu alasannya. Sedang taqlid mengikuti tapi tidak tahu rasionalitasnya,” kata mantan Ketua Tanfidziah PWNU Yogyakarta itu.

Karena itu, tegas Prof Rochmat, sikap kritis tidak dilarang. Sebaliknya, justru harus ditumbuhkan lewat iklim yang sehat. “Orang yang kritis itu justru punya nilai di atas rata-rata orang lain, karena dia inovatif,” tegas mantan Ketua Forum Rektor Indonesia itu.

Karena itu, ia minta para elit NU struktural tidak phobi dan apriori terhadap munculnya kritik dari anak-anak muda NU. “Selama ini kalau ada kritik cenderung dimatikan, tidak diberi akses,” katanya.

Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu juga mengungkapkan bahwa kini era sudah berubah. Tradisi keilmuan dan intelektual NU tidak hanya berbasis di pondok pesantren, tapi juga di perguruan tinggi.

“Jadi sekarang basis keilmuan NU melebar. Karena itu pondok pesantren dan perguruan tinggi harus bersinergi,” harapnya. Karena itu ia minta para elit NU peduli terhadap kader NU yang kini tumbuh subur di lingkungan perguruan tinggi.

Ia menegaskan, kini banyak sekali kiai intelektual cerdas di lingkungan NU. Begitu juga kader NU yang bergelar doktor dan profesor.

Menurut dia, munculnya Gus Baha’ membuat kelompok Islam lain mengakui bahwa kader NU banyak yang mumpuni. “Padahal di lingkungan NU masih banyak sekali kiai-kiai muda lebih pintar dari Gus Baha’ tapi tidak atau belum muncul ke publik, karena tak diberi akses oleh elit NU,” tegas Kiai Rochmat Wahab. (MMA)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Selasa, 01 Desember 2020 16:52 WIB
PROBOLINGGO, BANGSAONLINE.com – Meletusnya Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, tidak mengakibatkan kenaikan material vulkanik di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo.Namun demikian, status Gunung Bromo tetap level II atau waspada. Sehingga pengunju...
Sabtu, 28 November 2020 22:34 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan --- Nahdlatul Ulama (NU) punya khasanah (bahasa) baru: Neo Khawarij NU. Istilah seram ini diintroduksi KH Imam Jazuli, LC, MA, untuk mestigmatisasi kelompok kritis NU: Komite Khittah Nahdlatul Ulama (KKNU). Khawarij ...
Rabu, 02 Desember 2020 21:44 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*39. walawlaa idz dakhalta jannataka qulta maa syaa-a allaahu laa quwwata illaa biallaahi in tarani anaa aqalla minka maalan wawaladaanDan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ”Masya Allah, ...
Kamis, 03 Desember 2020 15:46 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A, dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wonocolo Surabaya. Silakan kirim...