
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*
Tiga aktor utama dalam drama idul adha: Ibrahim A.S., isma'il A.S., dan Hajar, sungguh sempurna memerankan ketawakkalan. Bahkan bisa dikatakan sebagai ketawakkalan murni, tanpa ikhtiar berarti. Rumusannya cuma satu: "Pokoknya Allah SWT yang menyuruh, langsung patuh". Tidak ada tapi-tapian.
Bisa dibayangkan, ayah mana yang langsung patuh disuruh menyembelih anak satu-satunya yang lama dirindukan? Bocah mana yang langsung ikhlas menyerahkan lehernya untuk disembelih oleh ayah kandungnya sendiri? Ibu mana yang merelakan suaminya menyembelih anak yang lama dikandungnya?
Kisah sa'i yang diperankan Hajar kiranya "wajib" kita renungkan. Hajar yang mondar-mandir antara bukit Shafa dan Marwah mencari setetes air tidak berhasil. Ismail, bayi yang sekadar menapak-napakkan kakinya ke bumi, padahal itu kaki bayi yang mungil, lemah dan tidak bertenaga, malah menghasilkan air melimpah, zam zam.
Dari jauh burung-burung padang pasir mencium bau air pada berdatangan dan terbang berputar-putar di atas sumber air. Para kafilah melihat pusaran burung-burung itu lantas hadir menghampiri. Kepada ibu Hajar, sang pemilik zam zam, mereka barter air dengan apa yang ada: air susu, buah-buahan, roti, dll. Hajar dan ismail tinggal duduk manis dan semua yang dibutuhkan datang sendiri. Itulah buah ketawakkalan.
Musim pandemi ini sudah berlangsung sangat lama dan memporak-porandakan tatanan hidup semua orang, termasuk ekonomi, pendidikan, dan ibadah. Ikhtiar lahiriah, protokoler kesehatan sudah ketat dilakukan. Dan hasilnya malah meningkat hingga di atas 100 ribu terpapar Covid-19.
Kira-kira, apa yang kurang?
Sebagai umat beriman, kami lebih memilih mengoreksi diri, mungkin ketawakkalan kita kepada Allah SWT yang masih lemah. Tuhan kurang diperankan secara optimal mengurus wabah ini.
Jika anda bertamu, lalu terkurung oleh anjing-anjing galak di pekarangan rumah mewah, lalu apa yang terbaik yang anda lakukan: melawan, lari? Itu sangat berisiko. Orang pintar mesti menghubungi tuan rumah. Cukup satu isyarat dari sang majikan, anjing-anjing itu segera masuk rumah dan anda aman, bahkan dijamu dengan hidangan.
Kami bisa mengakui pak menteri pendidikan sebagai orang pintar, tapi belum bisa mengakuinya sebagai wong ngerti. Pertama, terhadap pelaksanaan pendidikan berbasis daring. Sudah banyak keluhan dari berbagai sisi, beratnya beban pulsa, mendampingi belajar, susah mendapatkan sinyal, dll. Yang terparah adalah "kemunafikan" yang dilakukan siswa. Tapi pak menteri tidak "ngerti".
Pasar, mall, bank, kantor, bahkan sektor pariwisata sudah dibuka dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Maka, belajar-mengajar tatap muka pasti pasti bisa dilaksanakan. Bisa diatur, bisa berkala, dan terjadwal. Itu jauh lebih manfaat, efektif, dan efesien ketimbang daring. Selain fresh, perilaku anak didik bisa dikontrol. Tatap muka antara guru dan murid adalah ibadah dan keberkahan. Inilah yang namanya pendidikan, bukan sekadar mendapat ilmu. Tapi pak menteri, sekali lagi tidak ngerti.
Kedua, kebijakannya mendistribusikan dana kepada POP, sehingga ormas besar seperti Muhammadiyah dan NU tersinggung dan mengundurkan diri. Padahal pak menteri tahu, bahwa dua ormas itu telah lama terbukti menangani pendidikan sebelum negeri ini lahir, bahkan jauh sebelum pak menteri berupa air mani. Ini peristiwa besar dalam sejarah kependidikan kita. Rupanya pak menteri belum ber"idul adha", belum menyembelih ego sektoralnya demi kemaslahatan umat.
*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.