Sabtu, 15 Mei 2021 09:50

LaNyalla: Tak Ada Kaitan Radikalisme dan Terorisme dengan Agama, FKPT Beber Radikalisme dari Medsos

Minggu, 08 November 2020 23:46 WIB
Editor: .
Wartawan: Nanang Fachrurozi
LaNyalla: Tak Ada Kaitan Radikalisme dan Terorisme dengan Agama, FKPT Beber Radikalisme dari Medsos
Ketua DPD RI, LaNyalla Mahmud Mattalitti.

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Anggota MPR RI yang juga Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, mengatakan masih banyak masyarakat yang memiliki pandangan yang salah sehingga timbul paham radikalisme. Mereka, kemudian melakukan aksi anarkis hingga teror dengan dalih agama. Padahal radikalisme dan terorisme tidak terkait sama sekali dengan agama apapun.

"Pandangan yang salah ini banyak disebabkan karena mereka tidak mendapatkan informasi yang benar. Mereka juga tidak serta merta melakukan kroscek ketika mendapatkan informasi," ujar AA LaNyalla Mahmud Mattalitti saat Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dengan tema "Pancasila Sebagai Penangkal Bahaya Radikalisme dan Terorisme" yang digelar di Surabaya, Minggu (8/11/2020).

Kepala Bidang Penelitian Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Jatim Ucu Martanto mengungkapkan, hasil Riset FKPT Jatim tentang literasi media, kebhinekaan, dan radikalisme menunjukkan jumlah masyarakat yang mendapatkan informasi keagamaan dari media sosial menjadi terbesar kedua setelah dari keluarga.

Hal inilah yang kemudian menjadi penyebab suburnya paham radikalisme di Indonesia, temasuk Jawa Timur. Karena para peselancar di medsos ini tidak memahami apakah informasi yang diterima tersebut salah atau benar. Mereka seringkali tidak membaca dan memahami berita yang sampai kepadanya, tetapi justru langsung membagi berita yang diterima.

BACA JUGA : 

Wabup Bojonegoro Ajak Mahasiswa Bersama-sama Antisipasi Paham Radikalisme

Munarman, Eks Petinggi FPI Ditangkap Densus 88 Terkait Baiat Teroris

Dari 4,4 T, Pemkab Jember Hanya Sisakan Rp 600 Juta untuk Sosialisasi Pemahaman Ideologi Kebangsaan

Marak Aksi Terorisme, Polres Tuban Perketat Akses Masuk ke Mapolres

Ia juga mengungkapkan bahwa tingkat literasi media masyarakat Jatim sangat rendah. Jumlah masyarakat yang mempunyai literasi tinggi, mulai dari interest atau ketertarikan terhadap berita, kemudian mambaca dan memahami, selanjutnya membandingkan dan setelah itu baru membagi, hanya sekitar 8,2 persen.

"Repotnya, sering kali mereka tidak tahu apa informasi benar atau salah. Para peselancar di media sosial, tidak memiliki literasi yang tinggi terhadap media sosial. Ini potret yang menurut kami sangat mengkhawatirkan," ujar Ucu.

Tetapi yang menjadi hal menarik, kata Ucu, adalah tingkat indeks kebhinekaan di Jatim sangat tinggi. Indeks pemahaman tentang kebinekaan mencapai 91,1 persen, sementara indeks sikap kebhinekaan mencapai 75,7 persen. Sementara Potensi radikalisme di Jatim terbilang kecil, dari sisi pemahaman radikalisme yang dianut mencapai 9,2 persen dan sikap radikalisme mencapai 22,4 persen. Sedangkan dari sisi tindakan yang menjurus ke radikalisme mencapai 3,9 persen.

"Kita punya modal yang cukup besar di tingkat kebhinekaannya, sementara kita punya defisit atau kekurangan di literasi digital serta potensi radikalisme," ungkap Ucu.

Guru Besar UIN Sunan Ampel, Prof. Husniyatus Salamah Zainiyati yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua FKPT Jatim menegaskan, ada beberapa ciri yang bisa diketahui apakah orang tersebut terpapar radikalisme atau tidak.

Orang yang terpapar, ujarnya, biasanya akan mendadak anti sosial. Orang yang sudah terpapar, akan berubah menjadi anti pati terhadap kondisi lingkungan dan menghabiskan waktu di tempat yang dirahasiakan.

"Mereka juga mengalami perubahan sikap secara emosional, dan menampakkan sikap tidak umum. Orang yang terpapar radikalisme juga terlihat bermusuhan dengan organisasi moderat seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah," ujarnya.

Menurutnya, ada tiga tingkatan radikalisme yang dihadapi Indonesia. Pertama tingkatan takfiri atau pemikiran. Kedua jihadis, yang secara tindakan telah melakukan teror atau sejenisnya. Dan, ketiga ideologis atau wacana. Radikalisme yang berada di tingkatan ketiga inilah yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi lain.

Untuk itulah, sebagai warga Indonesia harus memahami dan menanamkan nilai-nilai empat pilar dalam kehidupan sehari-hari. Keempat pilar tersebut adalah Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika. "Kita bisa menangkal radikalisme dengan wawasan kebangsaan," katanya.

Artis Greta Garbo Ajak Nikah ​Albert Einstein
Rabu, 12 Mei 2021 04:07 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Anekdot Gus Dur Edisi Ramadan episode 30 mereview cerita Gus Dur tentang fisikawan Albert Eintein dan model cantik Greta Garbo. “Anekdot ini saya ambil dari buku berjudul Gus Dur hanya Kalah dengan Orang Madura,...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Sabtu, 15 Mei 2021 09:10 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Kerusuhan 13 Mei 1988 terus diperingati oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia. Korban aksi anarkis itu sebagian memang etnis Tionghoa.Uniknya, mereka memperingati dengan menyajikan rujak pare dan sambal jombrang. Apa maksud...
Kamis, 13 Mei 2021 19:51 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*61. falammaa balaghaa majma’a baynihimaa nasiyaa huutahumaa faittakhadza sabiilahu fii albahri sarabaanMaka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengamb...
Jumat, 14 Mei 2021 10:11 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Won...