Minggu, 17 Januari 2021 10:53

LaNyalla: Tak Ada Kaitan Radikalisme dan Terorisme dengan Agama, FKPT Beber Radikalisme dari Medsos

Minggu, 08 November 2020 23:46 WIB
Editor: .
Wartawan: Nanang Fachrurozi
LaNyalla: Tak Ada Kaitan Radikalisme dan Terorisme dengan Agama, FKPT Beber Radikalisme dari Medsos
Ketua DPD RI, LaNyalla Mahmud Mattalitti.

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Anggota MPR RI yang juga Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, mengatakan masih banyak masyarakat yang memiliki pandangan yang salah sehingga timbul paham radikalisme. Mereka, kemudian melakukan aksi anarkis hingga teror dengan dalih agama. Padahal radikalisme dan terorisme tidak terkait sama sekali dengan agama apapun.

"Pandangan yang salah ini banyak disebabkan karena mereka tidak mendapatkan informasi yang benar. Mereka juga tidak serta merta melakukan kroscek ketika mendapatkan informasi," ujar AA LaNyalla Mahmud Mattalitti saat Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dengan tema "Pancasila Sebagai Penangkal Bahaya Radikalisme dan Terorisme" yang digelar di Surabaya, Minggu (8/11/2020).

Kepala Bidang Penelitian Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Jatim Ucu Martanto mengungkapkan, hasil Riset FKPT Jatim tentang literasi media, kebhinekaan, dan radikalisme menunjukkan jumlah masyarakat yang mendapatkan informasi keagamaan dari media sosial menjadi terbesar kedua setelah dari keluarga.

Hal inilah yang kemudian menjadi penyebab suburnya paham radikalisme di Indonesia, temasuk Jawa Timur. Karena para peselancar di medsos ini tidak memahami apakah informasi yang diterima tersebut salah atau benar. Mereka seringkali tidak membaca dan memahami berita yang sampai kepadanya, tetapi justru langsung membagi berita yang diterima.

Ia juga mengungkapkan bahwa tingkat literasi media masyarakat Jatim sangat rendah. Jumlah masyarakat yang mempunyai literasi tinggi, mulai dari interest atau ketertarikan terhadap berita, kemudian mambaca dan memahami, selanjutnya membandingkan dan setelah itu baru membagi, hanya sekitar 8,2 persen.

"Repotnya, sering kali mereka tidak tahu apa informasi benar atau salah. Para peselancar di media sosial, tidak memiliki literasi yang tinggi terhadap media sosial. Ini potret yang menurut kami sangat mengkhawatirkan," ujar Ucu.

Tetapi yang menjadi hal menarik, kata Ucu, adalah tingkat indeks kebhinekaan di Jatim sangat tinggi. Indeks pemahaman tentang kebinekaan mencapai 91,1 persen, sementara indeks sikap kebhinekaan mencapai 75,7 persen. Sementara Potensi radikalisme di Jatim terbilang kecil, dari sisi pemahaman radikalisme yang dianut mencapai 9,2 persen dan sikap radikalisme mencapai 22,4 persen. Sedangkan dari sisi tindakan yang menjurus ke radikalisme mencapai 3,9 persen.

"Kita punya modal yang cukup besar di tingkat kebhinekaannya, sementara kita punya defisit atau kekurangan di literasi digital serta potensi radikalisme," ungkap Ucu.

Guru Besar UIN Sunan Ampel, Prof. Husniyatus Salamah Zainiyati yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua FKPT Jatim menegaskan, ada beberapa ciri yang bisa diketahui apakah orang tersebut terpapar radikalisme atau tidak.

Orang yang terpapar, ujarnya, biasanya akan mendadak anti sosial. Orang yang sudah terpapar, akan berubah menjadi anti pati terhadap kondisi lingkungan dan menghabiskan waktu di tempat yang dirahasiakan.

"Mereka juga mengalami perubahan sikap secara emosional, dan menampakkan sikap tidak umum. Orang yang terpapar radikalisme juga terlihat bermusuhan dengan organisasi moderat seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah," ujarnya.

Menurutnya, ada tiga tingkatan radikalisme yang dihadapi Indonesia. Pertama tingkatan takfiri atau pemikiran. Kedua jihadis, yang secara tindakan telah melakukan teror atau sejenisnya. Dan, ketiga ideologis atau wacana. Radikalisme yang berada di tingkatan ketiga inilah yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi lain.

Untuk itulah, sebagai warga Indonesia harus memahami dan menanamkan nilai-nilai empat pilar dalam kehidupan sehari-hari. Keempat pilar tersebut adalah Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika. "Kita bisa menangkal radikalisme dengan wawasan kebangsaan," katanya.

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Kamis, 07 Januari 2021 16:58 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Pamekasan dalam masa pandemi ini tetap bertekad memberikan wahana hiburan rekreasi sekaligus olahraga, terutama bagi anak-anak dan usia dini.Melalui kapasitas dan potensi...
Minggu, 17 Januari 2021 10:07 WIB
Oleh: M. Aminuddin---Peneliti Senior Institute for Strategic and Development Studies (ISDS)---Di awal tahun 2021 ini Kemendikbud telah merelease tekadnya untuk melanjutkan apa yang disebutnya sebagai transformasi pendidikan dan pemajuan kebu...
Sabtu, 16 Januari 2021 19:54 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*50. Wa-idz qulnaa lilmalaa-ikati usjuduu li-aadama fasajaduu illaa ibliisa kaana mina aljinni fafasaqa ‘an amri rabbihi afatattakhidzuunahu wadzurriyyatahu awliyaa-a min duunii wahum lakum ‘aduwwun bi/sa lil...
Sabtu, 26 Desember 2020 12:03 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wono...