Tafsir Al-Hijr: Ayam Adalah Guru Keikhlasan

Tafsir Al-Hijr: Ayam Adalah Guru Keikhlasan foto: dakwatuna.com

Seorang teman bertanya tentang dua hal yang umum ditanyakan orang, yakni soal ikhlas dalam beramal dan soal khusyu' dalam shalat. Penulis menjawab, tidak perlu kalian mencari resep atau tehnik ndakik-ndakik, lakukan saja, latih saja, paksa saja. Anda ingin shalat khusyu'?, ya khusyu'-khusyu'kan sebisa-bisanya. Meski tetap tidak bisa khusyu', ya terus saja dipaksa dan dikhsuyu'-khusyu'kan.

Begitu pula ikhlas, ya dikhlas-ikhlaskan, dilatih terus, dipaksa terus dan lama-lama pasti meningkat dan terus meningkat. Karena tidak mungkin kita bisa khusyu' total atau ikhlas total. Jangan bermimpi bisa ikhlas, bisa shalat khusyu' dadakan. Khusyu' dan ikhlas itu ibarat harta kekayaan, tidak ada batas topnya, tapi ada hitungannya.

Seorang sufi kesulitan mendefinisikan ikhlas, lalu membuat tesis balik, "al-ikhlas tark al-ikhlas fi al-ikhlas".

Ikhlas sejati itu meninggalkan ikhlas dalam keikhlasan. Saat kita tidak merasa apa-apa, tidak merasa berbuat baik, tidak merasa beramal apa-apa, hati lepas dan blank, itulah hakekat ikhlas.

Induk ayam yang bertelor dan dibiarkan begitu saja tanpa mempersoalkan dimanfaatkan oleh siapa atau kemana. Pokoknya bertelor dan bertelor, titik. Itulah ikhlas yang diajarkan ayam kepada kita. Ayam, sungguh guru sufi bidang keikhlasan yang perlu kita diteladani. Dirawat, bertelor dan tidak diberi makanpun tetap bertelor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO