Senin, 10 Mei 2021 15:48

Dulu, Ponpes Kapurejo Gunakan Jam Istiwak untuk Tentukan Waktu Salat

Sabtu, 17 April 2021 16:59 WIB
Editor: Tim
Wartawan: Muji Harjita
Dulu, Ponpes Kapurejo Gunakan Jam Istiwak untuk Tentukan Waktu Salat
KH. Mochamad Chamdani Bik (Gus Ibik) menunjukkan jam rubuk atau jam matahari yang berada di halaman Pondok Pesantren Kapurejo Kediri, Sabtu (17/4/2021). foto: Muji Harjita/ bangsaonline.com.

KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Dulu untuk menentukan waktu salat, Pondok Pesantren Salafiyah Kapurejo Desa Pagu, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, menggunakan jam rubuk atau jam matahari atau disebut juga jam istiwak.

Jam matahari merupakan cekungan dari kuningan atau perak yang terdapat angka-angka dan di atasnya ada besi berbentuk paku dengan posisi horizontal mengarah ke utara dan selatan. Prinsip kerja jam tersebut adalah menggunakan bayangan dari jarum di atas cekungan.

KH. Mochamad Chamdani Bik, putra pertama Mbah Mochamad Sodik, Pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, menjelaskan berdasarkan penuturan dari para sesepuh pondok, jam istiwak ini dulunya digunakan untuk menentukan waktu salat. Sebelum ditemukan jam seperti saat ini.

"Istilahnya jam istiwak atau waktu siang jam 12, waktunya salat duhur. Masuknya waktu salat duhur ditandai dengan bayang-bayang paku berada pada angka 12. Jam 12 menurut jam ini pas titik matahari lurus (bayangan paku) belum tentu jam 12 tepat. Bisa saja masih jam 11.30 kalau mengacu pada WIB. Istilahnya istiwak itu adalah waktu ibadah," kata Gus Ibik, sapaan Chamdani Bik, kepada BANGSAONLINE.com, Sabtu (17/4).

BACA JUGA : 

Razia Balap Liar, Polres Kediri Amankan Puluhan Sepeda Motor

Puluhan Guru Ngaji Kampung di Kediri Dapat Kado Ramadan dari Yayasan Guru Bansa

Bulan Ramadhan, PJI Kediri Berikan Santunan Anak Yatim di Panti Asuhan Kodim 0809 Kediri

Tinjau Operasi Pasar Murni, Wali Kota Kediri Imbau Masyarakat Belanja Secara Bijak dan Cerdas

Sedangkan untuk menunjukkan masuk waktu salat ashar, bayang-bayang paku menunjuk angka 3 atau pada bayangan 45 derajat. Kemudian masuknya waktu maghrib ditandai ketika matahari sudah terbenam dan bayangan paku sudah tak tampak lagi. Sementara, saat awal matahari terbit hingga sebelum masuk waktu duhur bisa sebagai penanda waktu salat dhuha.

Menurut Gus Ibik, sekarang takmir masjid tidak memakai jam matahari itu lagi sebagai patokan waktu salat. Meski begitu, lanjut Gus Ibik, jam tersebut tetap dirawat karena keberadaannya menjadi saksi sejarah kegiatan keagamaan di Pondok Pesantren Kapurejo, termasuk saat Ramadan kala itu.

Seperti diketahui, sebelum ada teknologi seperti sekarang ini, orang-orang zaman dahulu menentukan waktu siang dan malam melalui sebuah jam matahari (sundial). Jam matahari pertama kali digunakan sekitar 3.500 tahun sebelum Masehi. Jam ini menunjukkan waktu berdasarkan pada posisi matahari. (uji)

Penjaga Rumah Ibadah Bertanya Berapa Rupiah Jatah Tuhan
Senin, 10 Mei 2021 00:00 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Anekdot Gus Dur edisi Ramadan edisi 28 ini mereview cerita Gus Dur tertang para penjaga rumah ibadah. “Mereka berembuk soal sumbangan umat kepada rumah ibadah yang mengalami surplus. Lalu mereka bertanya, berapa ja...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Senin, 10 Mei 2021 05:19 WIB
Oleh: Dahlan Iskan --- LEBARAN kompak: hari Kamis, 13 Mei 2021. Maka, Disway edisi Rabu, Kamis, Jumat di sekitar Lebaran itu, saya akan menurunkan tiga tulisan tentang kebijakan energi untuk kebangkitan negeri.Lebaran tahun ini banyak waktu untu...
Rabu, 28 April 2021 14:16 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*61. falammaa balaghaa majma’a baynihimaa nasiyaa huutahumaa faittakhadza sabiilahu fii albahri sarabaanMaka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengamb...
Sabtu, 08 Mei 2021 11:38 WIB
Selama Bulan Ramadan dan ibadah puasa, rubrik ini akan menjawab pertanyaan soal-soal puasa. Tanya-Jawab tetap akan diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) d...