SURABAYA (BangsaOnline) - Ajaran yang diusung organisasi Negara Islam Iraq dan Suriah (ISIS) diprediksi sudah masuk ke sejumlah musala di Jawa Timur. Di Surabaya, beberapa warga mendapati adanya keanehan-keanehan ajaran yang diterima dari majelis-majelis yang kerap digelar oleh beberapa pendatang yang belakangan kemudian 'menguasai' musala tersebut.
Sebelumnya, 16 warga Indonesia dikabarkan ikut hilang dalam perjalanan wisata religi ke Turki. Enam diantaranya merupakan warga Surabaya. Mereka yang hingga kini belum ditemukan, diduga hendak bergabung dengan ISIS lantaran jarak Turki dengan Suriah cukup dekat. Beberapa dari mereka, bahkan pergi tanpa pamit dan baru diketahui setelah masuk dalam pemberitaan media massa.
BACA JUGA:
- Napiter WBP Lapas Surabaya Ucapkan Janji Setia kepada NKRI
- Komandan Al Qaida Tewas dalam Baku Tembak melawan Militer AS
- Iran akan Serang AS, Jenderal Iran Qassem Suleimani Dibunuh dengan Drone atas Perintah Trump
- Sore Tadi, Teroris ISIS asal Somalia Ledakkan Mobil, Lalu Tusuk Wajah Warga Melbourne sampai Mati
Seperti yang dialami warga di Kedung Sroko. Satu keluarga di kawasan tersebut ikut dalam romongan tur religi ke Tukri dan hilang sampai sekarang. Muncul dugaan, mereka sudah menjadi bagian dari ISIS. Saat BangsaOnline.com mencoba mengetahui kebenaran kabar tersebut, didapati informasi bahwa satu keluarga tersebut selama ini tertutup dan pergi tanpa ada warga yang mengetahui.
Kadi (55 tahun) salah satu pengurus musala di Jl Kedung Sroko menuturkan, satu keluarga tersebut merupakan warga pendatang dan dari alamat KTP disebutkan berasal dari Jalan Ploso.
''Keseharian dia tidak pernah kumpul dengan warga, setelah dari masjid langsung pulang ke rumah, dan tiap keluar rumah selalu dengan anak istrinya", ujar Kadi pengurus musala yang dibangun sejak 2005 tersebut.
Ketika ditanya soal kehidupan beragama di kawasan tersebut, Kadi menyatakan, di wilayah Kedung Sroko tidak ada yang ganjil dan hanya satu keluarga tersebut yang tertutup. Namun menurutnya, berbeda dengan di Kedung Tarukan yang justru didapati adanya keganjilan. Adalah SPY yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ledeng dan AMR yang bekerja sebagai pembuat sepatu sandal.
Sebelumnya, keduanya sempat bersama Kadi membesarkan musala di Kedung Sroko. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, sikap keduanya berubah dratis, terutama soal pemahaman agama dan tata cara beribadah yang tidak seperti pada umumnya.
"Sebenarnya saya tidak mau menuduh tapi ajaran yang disampaikan itu kadang tidak masuk akal. Seperti halnya saat mushola berdiri dengan bagunan yang bagus, AMR melarang saya untuk memberikan garis shaf dari anjuran itu saya bantah karena masjid atau musala tidak mungkin tidak ada garis shaf karena dipergunakan salat", terangnya.
Kadi juga menceritakan, SPY melarang musala untuk digunakan sebagai tempat pengajian dan wiridan.
"Memang sempat warga sekitar memanas tentang faham yang diberikan oleh SPY," ujar Kadi.
Selain masalah ibadah, keanehan didapati warga dari beberapa orang yang diduga sudah disusupi faham lain. Hal ini mengenai hidup dalam berumah tangga. Disebutkan, warga yang menganut faham semacam SPY dan AMR melarang istri dan keluarga mereka sekalipun ibu kandungnya mencuci pakaian kotor suaminya. Hal itu, diinilai najis. Bahkan, katanya, apabila ada orang aliran lain ikut berjamaah salat bersama mereka dianggapnya sebagai musibah sehingga tempat bekas salatnya harus dibersihkan.
Mengetahui adanya kemungkinan menyebarnya ajaran ISIS dan ajaran sesat di Surabaya, pihak Intelkam Polrestabes Surabaya dibantu Intelkam Polsek sekitar melakukan pemantauan secara berkala.
Sementara itu, Polda Jawa Timur mewaspadai isu dan gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di seluruh daerah di Jatim.
"Semua (daerah) kita waspadai," kata Kapolda Jatim Irjen Pol Anas Yusuf seperti dilansir detik.com, Jumat (13/3).






