Tiongkok Dilanda Kekurangan Listrik

Tiongkok Dilanda Kekurangan Listrik Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Tiongkok kini dilanda kekurangan listrik. Tapi bukan seperti krisis listrik yang pernah dialami Indonesia. Lalu seperti apa?

Simak tulisan wartawan kondang, Dahlan Iskan, di Disway hari ini, Sabtu 2 Oktober 2021. Di bawah ini BANGSAONLINE.com menurunkannya secara lengkap. Namun khusus bagi pembaca BaBe klik "lihat arikel asli" agar bisa membaca tuntas, tak terpotong. Selamat membaca:

SETIAP 30 September biasanya ada mandi cahaya. Itulah malam hari Kemerdekaan Republik Rakyat Tiongkok, 1 Oktober.

Tapi menjelang hari kemerdekaan kali ini suasananya berbeda: Tiongkok lagi dilanda kekurangan listrik. Pesta cahaya ditiadakan. Di banyak kota. Terutama pada jam-jam puncak pemakaian listriknya.

Di Tiongkok puncak penggunaan listrik itu tiga jam: pukul 11.00 sampai 12.00 dan pukul 15.00 sampai 17.00. Ini agak berbeda dengan puncak penggunaan listrik di Indonesia: 17.00 sampai 21.00. Kecuali Jakarta: pukul 11.00 sampai 14.00. Kalau belum berubah.

Pada jam-jam puncak itu Tiongkok sampai menaikkan tarif listrik. Sampai 25 persen. Khusus untuk industri. Tidak termasuk rumah tangga dan bisnis eceran seperti panti pijat.

Mengapa Tiongkok sampai kekurangan listrik? Sejak sebulan lalu?

Yang anti-Tiongkok akan langsung mengatakan: Tiongkok kena batunya. Senjata makan nyonya.

Anda sudah tahu: akhir tahun lalu Tiongkok marah kepada Australia. Tiongkok tidak mau lagi mengimpor batu bara dari sana. Padahal Australia itu penghasil batu bara nomor dua terbesar di dunia.

Itu gara-gara Australia dianggap ikut mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok. Bukan hanya batu bara yang jadi sasaran. Juga bijih besi.

Golongan anti-Tiongkok dengan horee berteriak: mampus Tiongkok.

Golongan yang iri pada Tiongkok akan mengatakan: itu akibat Tiongkok terlalu menggenjot produktivitas pabrik-pabriknya. Hampir semua pabrik menambah kapasitas. Mereka menggunakan listrik lebih banyak. Belum lagi begitu banyak yang membangun pabrik baru.

Setelah berhasil mengendalikan Covid, ekonomi Tiongkok meroket-eket-eket. Pertumbuhan ekonomi semester lalu 17 persen lebih. Surplus perdagangannya, bulan Agustus kemarin, mencapai puncaknya: USD 58,34 miliar. Hanya satu bulan. Itu melebihi konsensus mereka sendiri yang akan membatasi diri di angka ’’hanya’’ USD 51 miliar.

Ekspor Tiongkok terus merajai dunia. Negara-negara yang ingin bangkit setelah Covid juga menambah permintaan.

Pokoknya, kekurangan listrik ini beda. Bukan karena krisis listrik seperti masa lalu Indonesia, tapi karena permintaan yang melonjak-lonjak (yang benar: melonjak saja).

Bagi golongan yang pro-lingkungan jarinya akan langsung mengarah ke perubahan iklim. Musim panas barusan suhu di Tiongkok ekstrem. Tapi setelah pesta kue bulan lima hari lalu suhu di sana mulai membaik.

Simak berita selengkapnya ...