Kegiatan tarawih keliling MWC NU Gempol di salah satu masjid.
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Tradisi tarling (tarawih keliling) masih terus dilakukan oleh warga NU di Pasuruan. Di antaranya oleh pengurus MWC Gempol.
Para ustad dan tokoh agama mendatangi masjid-masjid secara bergiliran selama Ramadan dengan tujuan menyiarkan agama dan memperkuat silaturahmi.
BACA JUGA:
- Sudah Shalat Witir saat Tarawih, Apa Perlu Shalat Witir Lagi usai Shalat Tahajud dan Shalat Hajat?
- Ramadan Momentum Keluarga, Lia Istifhama Ajak Orang Tua Bangun Kedekatan Emosional dengan Anak
- Ketua LAZISNU Bangil Sarankan Santunan Anak Yatim Diantar Langsung ke Rumah
- Tafsir Al-Anbiya' 100-103: Al-Faza' Al-Akbar
H Jemik Sadiman, Bendahara MWC NU Gempol, mengatakan kegiatan tarawih keliling sudah menjadi tradisi umat muslim, khususnya di wilayah Gempol.
Menurutnya, ada tiga poin penting dari kegiatan tarling. Pertama untuk edukasi. Yakni menyampaikan program-program pemerintah maupun organisasi keagamaan kepada masyarakat.
"Kedua, menyampaikan aspirasi yang positif melalui dialog-dialog dengan masyarakat tentang persoalan yang tengah mereka hadapi," ujarnya.
"Dan, yang terakhir adalah untuk meningkatkan silaturahim karena di tarling melibatkan unsur pemerintah dan aparat, mulai kepolisian dan TNI, dan ini perlu dilestarikan," jelasnya.
Kegiatan tarling sendiri dibagi dalam dua kelompok, yakni kelompok A dan kelompok B. Tujuan di pembagian ini agar kegiatan tersebut bisa merata di semua desa. (bib/par/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






