Pilih Mati Terkenal, Raymond Tembakkan 100 Peluru pada Anak Kecil, Pelajar, dan Ibu-Ibu

Pilih Mati Terkenal, Raymond Tembakkan 100 Peluru pada Anak Kecil, Pelajar, dan Ibu-Ibu Raymond. Foto: disway

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Kasus penembakan di Amerika Serikat (AS) terjadi di mana-mana. Bahkan mengalahkan di Afghanistan. Kali ini pelakunya Raymond, usia 23 tahun. Tapi kenapa aksinya itu ia posting di medsos?

Simak tulisan wartawan kondang, Dahlan Iskan, di BANGSAONLINE.com di bawah ini.

UNTUNG saya bisa pulang: di hari terakhir bulan puasa kemarin. Mahal. Harus beli tiket seharga Rp 14 juta. Untuk sekali jalan. Samarinda-Surabaya.

Alhamdulillah. Bisa pulang.

Lebaran begitu penting –di Indonesia. Energi nasional begitu besar dicurahkan untuk Lebaran.

Itu tidak rasional. Tapi terjadi di mana-mana. Pun di negara tidak bertuhan seperti Tiongkok. Yang kalau Imlek, 400 juta orang yang mudik. Juga di Korea Selatan –di tahun baru mereka. Pun di Amerika. Menjelang liburan Natal.

Dan menjelang Lebaran itu saya justru ke pulau Jawa. Maka selama heboh terakhir minyak goreng, di tempat nun jauh. Saya di pedalaman Kaltim: di Kembang Janggut. Tidak jauh dari tempat pacar saya dulu mengajar –45 tahun lalu.

Maka selama heboh terakhir minyak goreng itu saya sibuk: menggeser-geser pantat agak tidak penat. Juga sulit sinyal. Sampai saya tidak tahu kalau Presiden Jokowi telah meralat keputusan Menko Perekonomian yang meralat keputusan Presiden Jokowi.

Saya sampai diejek pembaca Disway: beritanya telat!

Ampuuuuuun.

Mohon maaf lahir batin –orang tua memang lebih banyak salahnya, meski juga lebih banyak uangnya.

Memang saya sok sering menggunakan logika –yang ternyata sering salah juga.

Logika saya: keputusan seorang menko pasti jalan. Dulunya kan begitu. Bahkan lebih jalan dari keputusan siapa pun.

Logika yang lain: tidak mungkin sebuah keputusan seorang menko hanya akan berumur beberapa jam. Istilah ''seumur jagung'' pun ternyata masih kepanjangan.

Semua logika saya itu ternyata salah.

Minal Aidin Wal Faizin

Kesalahan saya yang lain: ternyata saya tidak bisa menulis panjang di dalam mobil yang guncangannya mengalahkan goyang Inul di waktu muda.

Maka tulisan edisi kemarin pun ternyata begitu pendeknya. Padahal, banyak pembaca menginginkan tulisan panjang: lagi banyak yang kelebihan waktu di kemacetan mudik.

Semoga segala dosa dan kesalahan saya itu dimaafkan.

Maka inilah tulisan agak panjang tentang sesuatu yang dramatis, yang dua hari lalu tidak bisa dimuat –kegeser oleh minyak goreng. Sambil beri saya kesempatan untuk meluruskan pinggang.

***

Senjata Sunat

Lihatlah wajah di foto itu: mirip sekali dengan wajah remaja Indonesia. Rautnya, senyumnya dan ekspresinya. Semua seperti wajah Melayu.

Saat melihat foto itu saya sampai berdoa dalam hati: semoga bukan orang Indonesia. Namanya sih bukan nama Indonesia: Raymond Spencer. Tapi dari nama saja tidak bisa lagi ditebak. Kian ke zaman ini kian biasa anak Indonesia pun punya nama yang jauh dari bau Aryo Mbediun, Priyadi, atau Putu Leong. Umur Raymond: 23 tahun.

Anak ini tinggal di lantai lima apartemen AVA Van Ness, di bagian utara ibu kota Amerika Serikat, Washington DC.

Ia tinggal sendirian. Ups tidak. Ia punya teman khusus: enam senjata api. Salah satunya laras panjang. Senjata panjang itu ia pasang di atas tripod setinggi kaca jendela di kamarnya itu. Moncong senjata itu ia hadapkan ke jalan raya di bawah sana. Bisa juga diputar ke arah sekolah agak di samping gedung apartemen itu.

Dari kamar di lantai 5 itulah Raymond membidikkan senjata. Ia menembak siapa saja yang lewat di jalan itu. Juga menembak gedung sekolah. Lebih 100 peluru dimuntahkan. Seorang wanita muda, seorang lagi wanita 60 tahunan, dan seorang anak kecil terkena tembakan Raymond. Beruntung tembakannya kurang jitu. Para korban bisa dilarikan ke rumah sakit. Kondisi mereka stabil.

Begitu banyak kaca pecah: kaca toko roti, toko kaca mata, kaca di gedung sekolah, dan yang ada di sekitar situ.

Kejadiannya: Jumat sore lalu. Sekitar jam 15.30. Itu jam ramai. Ketika anak sekolah waktunya pulang. Banyak juga yang menjemput mereka.

Di situ juga ada kampus universitas terkenal: Howard University. Ada juga sekolah The Edmund Burke.

Senjata laras panjang Raymond dilengkapi layar pengintai sasaran. Dengan tanda yang Anda sudah pasti tahu: garis silang. Untuk menandai sasaran yang akan ditembak sudah tepat di tengah garis silang itu.

Simak berita selengkapnya ...