Cak Imin Berani Melawan Ketum PBNU, karena Digoyang atau Faktor HMI-PMII?

Cak Imin Berani Melawan Ketum PBNU, karena Digoyang atau Faktor HMI-PMII? A Muhaimin Iskandar. Foto: bangsaonline.com

Hingga sekarang keberaniaan melawan ketua umum PBNU masih terus menjadi perbincangan warga NU dan kiai-kiai NU. Adakah alasan mendasar bagi sehingga ia nekat perang terbuka melawan Yahya Staquf?

Saya tadi malam dikontak seorang aktivis NU Jawa Timur. Ia mantan ketua PMII Jatim. Ia mengaku sangat kecewa terhadap .

“Tapi kalau PMII melawan HMI saya pasti membela PMII,” kata dia kepada saya sembari minta namanya dirahasiakan.

"Yang repot kalau PMII berhadapan dengan PMII. Tapi kalau berhadapan dengan Yahya, ya saya pasti membela ," katanya.

adalah mantan ketua umum Pengurus Besar (PB) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Sedang Yahya Staquf aktivis Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI).

Saya tanya kenapa minta namanya dirahasiakan? Bukankah aktivis PMII itu “tangan terkepal maju ke depan”?

“Ya belum waktunya,” jawabnya. Saya tertawa. Ia ikut tertawa, meski mungkin kurang ikhlas.

Tampaknya masalah PMII dan HMI ini masih menjadi api dalam sekam di kepengurusan NU. Dan itu terjadi pada semua level.

(Massa . Foto: Antara)

Uniknya, di tengah kontroversi PMII-HMI, ternyata grafik kader HMI justru naik di semua kepengurusan NU. Termasuk di PWNU Jawa Timur. Bahkan ada yang menyebut kader HMI yang duduk dalam kepengurusan PWNU Jawa Timur mencapai 40 persen. Padahal Jawa Timur adalah “markas besar” PMII.

Benarkah? Saya pernah kontak Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar. Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rosyad, Gasek, Malang Jawa Timur itu, mengakui memang ada kenaikan. Tapi tidak sampai 40 persen.

“Ndak sampai 40 persen, tapi memang ada kenaikan,” jelas Kiai Marzuki Mustamar kepada saya lewat telepon.

Apakah grafik kader HMI naik di kepengurusan PWNU Jatim karena faktor Saifullah Yusuf (Gus Ipul)? Wallahua’lam bisshawab. Yang pasti, Wali Kota Pasuruan yang kini Sekjen PBNU itu juga kader HMI. Dan saat menjabat Wakil Gubernur Jawa Timur, Gus Ipul sangat berpengaruh, termasuk pada PWNU Jatim.

Bahkan dalam Pilgub Jatim, semua pengurus PWNU Jawa Timur solid berkampanye untuk kemenangan Gus Ipul dan Puti Guntur Soekarno (kader PDIP). Tapi dalam konstestasi politik itu Gus Ipul kalah dengan pasangan Khofifah Indar Parawansa yang berpasangan dengan Emil Elestianto Dardak.

Pertanyaan lain, benarkah percaya diri melawan Yahya Staquf karena di-back up para kiai NU yang berlatar belakang PMII? Saya masih perlu survei secara detail ke kiai-kiai NU.

Yang pasti - diakui atau tidak - kiai-kiai NU berlatar belakang PMII masih setengah hati mendukung Yahya Staquf. Dan ini fakta. Saya sering berdiskusi dengan beliau-beliau. Bahkan seorang kiai yang kini jadi ketua NU mengaku heran, kenapa ada ketua PCNU mau mendukung ketua umum PBNU berlatar belakang HMI.

Ini berarti legitimasi Yahya Staquf belum utuh. Memang secara de jure Yahya Staquf terpilih sebagai ketua umum PBNU di Muktamar ke-34 NU di Lampung. Tapi fakta di kepengurusan wilayah dan cabang (kabupaten/kota) belum sepenuhnya bisa menerima secara utuh. Bahkan hingga sekarang hubungan PBNU dengan sebagian pengurus PWNU Jatim masih seperti api dalam sekam. 

Kita bisa saja bilang: walah zaman sekarang di NU kok masih ada sentimen PMII dan HMI. Kapan NU majunya? Tapi fakta di benak semua aktivis PMII, “semangat korp” tak bisa hilang. Tentu juga di benak aktivis HMI. Meski kadang tak rasional. 

"Kalau PBNU dipimpin kader HMI, untuk apa PBNU mendirikan PMII," kata seorang kiai. Bukankah HMI organisasi di luar NU?

Bahkan dalam acara IKA PMII seorang kiai memberikan pernyataan keras. “Cukup sekali ini saja HMI menjadi ketua umum PBNU,” tegas kiai tersebut seraya menyudahi pidatonya yang kemudian mendapat tepuk tangan meriah.

Ada juga spekulasi politik, kenapa berani perang terbuka melawan Yahya Staquf. 

“Karena ada gerakan untuk menghabisi sebagai ketua umum ,” tutur seorang sahabat aktivis NU di Jakarta kepada saya tadi pagi.

Berarti sedang digoyang ya? “Sekarang konsolidasi terus di ,” tambahnya.

Rumor ini memang cukup lama beredar. Dan banyak kader NU yang disebut sebagai kandidat untuk menggantikan . Antara lain: Yaqut Cholil Qoumas, Yenny Wahid, dan nama lain.

Namun hingga sekarang tetap hanya sebagai rumor. tetap masih ketua umum .

Ya, kita tunggu saja manuver politik selanjutnya. Yang pasti, telah menabuh genderang perang! Wallahua’lam bisshawab. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Sejumlah Pemuda di Pasuruan Dukung Muhaimin Maju Calon Presiden 2024':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO