Petani cabai rawit dari Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Saiful, saat mencabuti tanamannya.
BLITAR, BANGSAONLINE.com - Cuaca buruk dan serangan hama membuat sejumlah petani cabai di Kabupaten Blitar gagal panen, mereka mengalami kerugian yang cukup besar. Bahkan, para petani itu mencabuti cabai yang telah ditanam untuk digantikan dengan tanaman lain yang menghasilkan.
Seperti yang dilakukan salah satu petani cabai rawit dari Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Saiful. "Kalau terus bertahan, kerugian sangat besar. Karena cabai rusak dan tidak laku dijual," ujarnya, Senin (30/5/2022).
BACA JUGA:
- Manfaatkan Energi Surya, Tim Teknik Fisika ITS Kembangkan Solar Dryer untuk Petani Cabai Mojorejo
- Melalui DBHCHT, Progres 4 Proyek Fasilitas Kesehatan di Blitar Ditargetkan Rampung Akhir 2025
- BI Kediri Kembali Gelar Syar 2025, Dorong Ekosistem Halal dan Transaksi Digital
- DBHCHT Kabupaten Blitar 2025 Naik Jadi Rp36,2 Miliar, Pemkab Pastikan Tepat Sasaran
Ia menanam 7.000 batang cabai dengan biaya puluhan juta rupiah di lahan dengan luas sekitar satu hektare. "Ini modalnya sudah tidak kembali, karena saat harga cabai rawit mahal, tanaman saya rusak dan mengering," tuturnya.
Selama menanam cabai kurang lebih tiga bulan, Saiful memanen sekitar empat kali. Namun, panen cabai dengan hasil bagus dan melimpah justru dilakukan saat harga cabai masih murah.
"Awal panen kemarin cuman Rp15 ribu per kg. Saat ini Rp40-50 ribu per kg, tapi cabainya rusak dan tidak bisa dipanen," kata Saiful.
Ia menambahkan, tanaman cabai miliknya yang terjadi saat awal Maret 2022. Karena cuaca yang tak menentu, daun cabai rontok dan pohon cabai mengering.
"Kalau tanaman cabai kebanyakan air hujan rusak. Bahkan banyak yang mati. Jika dihitung untuk kerugian saya menanam cabai ini diperkirakan Rp25 juta," pungkasnya. (ina/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




