Citra inframerah Himawari-8. Foto: bnpb.go.id
JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) peluang terjadinya hujan ekstrem pada kondisi iklim zaman kini meningkat sekitar 2,4 kali lebih sering dibandingkan dengan kondisi iklim 100 tahun yang lalu.
Cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Indonesia menjadi sebuah tanda bahwa iklim kita sedang tidak baik-baik saja. Dalam lima tahun terakhir, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat pada tahun 2022 telah terjadi 2.899 bencana. Bencana yang paling sering terjadi ialah banjir yakni tercatat sebanyak 1.181 dan kejadian akibat cuaca ekstrem sebanyak 908 kejadian.
BACA JUGA:
- Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan, BPBD Jember Minta Warga Hemat Air hingga Waspada Karhutla
- Prakiraan Cuaca Jember Hari ini Senin, 11 Mei 2026: Suhu 23-31°C, Kecepatan Angin 6.3 m/s.
- Prakiraan Cuaca Banyuwangi Hari ini Senin, 11 Mei 2026: Suhu 24-30°C, Kecepatan Angin 10.5 m/s.
- Prakiraan Cuaca Kota Batu Hari ini Senin, 11 Mei 2026: Suhu 17-23°C, Kecepatan Angin 3.1 m/s.
Krisis iklim yang terjadi saat ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa hilangnya hutan yang memiliki peran sebagai resapan air menjadi faktor utama dalam peningkatan bencana hidrometeorologi yang terjadi saat ini.
Selain itu, perubahan suhu yang drastis dapat melemahkan daya tahan tubuh manusia, sehingga rentan terkena berbagai macam penyakit seperti influenza, demam berdarah, diare, hingga leptospirosi.
Organisasi dan komunitas pemuda saat ini sedang berjuang bersama menyampaikan suaranya mengenai kekhawatiran situasi saat ini.
Terdapat beberapa tuntutan yang diinginkan untuk mengatasi krisis iklim. Pertama, mendorong pemerintah melalui Presidensi G20 yang akan digelar di Bali melakukan tindakan konkrit mencapai kesepakatan Paris dalam membatasi kenaikan suhu global. Kedua, mendesak pemerintah untuk segera meninggalkan energi fosil yang berpengaruh besar pada perubahan iklim. Ketiga, mendorong pemerintah fokus pada pendanaan energi terbarukan yang bersifat ramah lingkungan.
Kita sedang menghadapi krisis iklim, mari kuatkan solidaritas untuk memulihkan keadaan. Jadikan hutan sebagai ruang terbuka hijau dan percepat transisi energi dari batu bara ke energi bersih.
(ans)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




