HUJAN INSTRUPSI- Suasana Pra Muktamar NU di Makassar yang diwarnai instrupsi PWNU dan PCNU yang menolak AHWA diberlakukan pada Muktamar NU ke-33 di alun-alun Jombang. (foto: istimewa)
Seperti diberitakan sebelumnya, penolakan terhadap AHWA meluas. Para Rais Syuriah PWNU dan PCNU baik di Jawa maupun luar Jawa menolak AHWA diberlakukan pada Muktamar NU ke-33 di alun-alun Jombang mendatang.
Bahkan dalam tiga acara Pra Muktamar NU yang digelar di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB), Makassar Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Medan Sumatera Utara (Sumut) para PWNU dan PCNU yang hadir menolak ketika AHWA disosialisasikan.
”Mayoritas PWNU dan PCNU menolak AHWA diberlakukan pada Muktamar NU ke-33 di Jombang. Bahkan PCNU di Medan kebanyakan menolak diberlakukan pada Muktamar ke-33,” kata Rais Syuriah PCNU Medan KH Ahyar Nasution kepada BANGSAONLINE.com, Mei lalu (18/5/2015).
”Mereka minta agar AHWA diberlakukan pada Muktamar ke-34, Muktamar berikutnya,” kata Kiai Ahyar.
Beberapa PWNU dan PCNU yang hadir dalam acara Pra Muktamar NU di Medan ini bukan hanya menolak AHWA secara lisan tapi juga menyiapkan surat penolakan berkop resmi PWNU dan PCNU lengkap dengan tanda tangan dan stempelnya.
Prof. Dr. H Nasruddin Suyuti, MSi, Ketua PWNU Sulawesi Tenggara, juga menegaskan bahwa mayoritas PWNU menolak. ”Substasinya menolak,” kata Nasruddin Suyuti BANGSAONLINE.com.
Sementara Rais Syuriah PWNU Nusa Tenggara Timur (NTT) Drs KH Abdul Kadir Makarim bahkan merasa heran kenapa AHWA masih muncul dalam Pra Muktamar NU. ”Dalam Munas dan Konbes kan sudah ditolak. Berarti Munas dan Konbes itu tak sah (kalau AHWA masih disosialisasikan),” kata Kiai Abdul Kadir Makarim.
Bahkan dalam acara Pra Muktamar NU di Makassar sosialisasi AHWA gagal total. ”Ya bisa dikatakan seperti itu (gagal total). Karena peserta banyak yang interupsi,” kata Ketua PWNU Sulawesi Utara KH Drs Syaban Mauludin.
Rais Syuriah PCNU Bojonegoro KH Achmad Maimun Syafii juga mengingatkan agar Muktamar NU ke-33 jangan sampai berujung ramai hanya karena memaksakan sistem pemilihan AHWA untuk Rais Am.
”Yang repot, pada waktu itu juga Muhammadiyah mengadakan Muktamar. Kalau (Muktamar) kita rame, sedang Muktamar Muhammadiyah berlangsung kondusif, kan malu kita,” kata Kiai Achmad Maimun Syafii (Minggu, 24/5/2015).
Menurut dia, untuk menghindari konflik itu mudah. Semua pihak harus istiqamah dan kembali kepada pedoman organisasi. ”Setiap organisasi kan ada Qur’an dan Haditsnya,” katanya. Artinya, setiap organisasi sudah ada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).(nuo/trb/tim)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




