Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar saat menjelaskan nota keuangan raperda P-APBD tahun anggaran 2023. Foto: Ist.
Dalam pos belanja daerah, Abdullah Abu Bakar juga menyebutkan bahwa secara keseluruhan baik dari belanja operasi, belanja modal, belanja tidak terduga maupun belanja transfer, yang semula direncanakan sebesar Rp1.744.540.975.718 mengalami kenaikan Rp160.281.213.533 sehingga menjadi Rp1.904.822.189.251 atau mengalami kenaikan sebesar 9%.
Perubahan sisi belanja ini disebabkan oleh perubahan dari belanja operasi untuk belanja pegawai, belanja barang/jasa, belanja hibah, belanja bantuan sosial. Belanja modal untuk belanja modal peralatan dan mesin, belanja modal gedung dan bangunan, belanja modal jalan, belanja modal aset tetap lainnya, dan belanja modal aset lainnya. Lalu masih ada belanja tidak terduga dan belanja transfer.
Pada pembiayaan, Wali Kota Kediri menyebut sebagai penyeimbang terjadinya defisit pada APBD awal yang direncanakan sebesar Rp365.638.248.726 bertambah sebesar Rp102.404.680.306 sehingga menjadi Rp468.042.929.032 atau naik sebesar 28%. Pembiayaan ini terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.
Penerimaan pembiayaan ini diperoleh dari silpa tahun sebelumnya sebesar Rp390.638.248.726 bertembah sebesar Rp87.463.700.326 sehingga menjadi Rp478.101.949.052 atau naik 72 persen. Lalu pencairan dana cadangan yang semula tidak dianggarkan bertambah sebesar Rp14.940.979.980 ata naik 100 persen.
Sementara pengeluaran pembiayaan tetap sesuai rencana awal Rp25.000.000.000. "Untuk pembahasan lebih lanjut saya serahkan sepenuhnya kepada dewan. Saya sampaikan terima kasih atas perhatiannya," pungkasnya.
Turut Hadir Wakil Ketua II DPRD Kota Kediri Katino, Sekretaris Daerah Kota Kediri Bagus Alit, Sekretaris DPRD Kota Kediri Rahmad Hari Basuki, perwakilan forkopimda, kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kota Kediri, dan tamu undangan lainnya. (uji/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




