SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Program Dinas Pendidikan untuk melakukan penyegaran dalam bentuk rotasi guru, mulai bermasalah. Ditengarai, program tersebut tidak lagi berjalan. Hal tersebut perlahan menuai protes. Khususnya oleh seluruh guru-guru dari tingkat SD hingga SMA, yang telah menjalani program tersebut sejak lama.
Kemarin (24/7), beberapa perwakilan para guru mendatangi Gedung DPRD Surabaya. Sedianya para guru tersebut menyampaikan uneg-uneg mereka kepada Wakil Rakyat Surabaya.
BACA JUGA:
- Surabaya Raih Penghargaan Nasional Revitalisasi Bahasa Daerah, Program Kemis Mlipis Curi Perhatian
- Sterilisasi Gratis Jadi Kado Ulang Tahun Surabaya ke-733, DKPP Siapkan Kuota 100 Kucing Lokal
- Wali Kota Eri Cahyadi Tunjuk Wawali Armuji dan Syamsul Hariadi Isi Posisi Plh Selama Ibadah Haji
- Kado HJKS ke-733, Pemkot Surabaya Tambah Empat Mobil Perpustakaan Listrik
Kuraida, salah satu guru mata pelajaran Fisika meminta tegas agar program rotasi tidak dihapus dan dijalankan untuk tahun ajaran baru.
Menurut dia, sejak tahun 2013 sampai 2014, tercatat sebanyak 1.500 guru mengalami rotasi. Baik dari sekolah SD hingga SMA dan SMK. Namun, jumlah ini belakangan tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Kuraida menyatakan, program rotasi guru diindikasikan mulai tidak berjalan.”Ternyata belum tersentuh semua. Raja-raja kecil di sekolah-sekolah tidak ada yang dipindah. Ini kan jadi presepsi akhirnya. Ada apa ini?,” katanya.
Istilah Raja Kecil ini muncul saat program rotasi Guru awal kali digagas jaman Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya dijabat oleh Sahudi. Itu merupakan ‘pelintiran’ dari sebutan para guru-guru yang dianggap berprestasi. Selain itu, masa bakti mereka mengajar cukup lama. Sehingga dianggap lebih senior di sebuah sekolah.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




