Program ini awalnya dikatakan baik. Sebab, para guru-guru berprestasi di sebuah sekolah akan dipindahkan ke sekolah lain. Tujuannya, agar sekolah-sekolah dengan SDM Guru yang kurang bisa terisi merata. Akhirnya, dengan SDM yang berkualitas setidaknya tidak ada diskriminasi bagi sekolah-sekolah Negeri di Surabaya. “Program itu justru seharusnya bisa berjalan terus. Biar semua merasakan seperti yang saya rasakan,” urai Guru berdarah Madura ini.
Sayangnya, implikasi ini justru terjadi benturan di internal sekolah-sekolah. Sebab, keberadaan ‘Guru Pilihan’ ini tidak semuanya bisa diterima di lingkungan baru. Terutama bagi tenaga guru muda. Dampaknya, tidak sedikit para guru yang mengalami rotasi merasa stress. Bahkan merasa dibuang. Fakta ini bahkan dialami oleh salah seorang guru SMP Negeri yang terkena gerbong rotasi.
Di lingkungan baru, guru tersebut justru diberi jam sedikit dan ruang kelas di lantai tiga sebuah sekolah di kawasan Jalan Biliton. Padahal, guru tersebut tengah menderita sakit hingga akhirnya meninggal dunia.
Di lain sisi, dengan pengurangan jam mengajar berdampak terhadap pemberian Tunjangan Profesi Pendidikan (TPP). Menurut Catur Budiwitjono, salah seorang Guru di SMKN 1 Surabaya, banyak para guru yang dirotasi harus merasakan TPP dikurangi.
Catur dulunya merupakan Guru mata pelajaran Olah Raga di SMPN 22 Surabaya. Meski ditempat yang baru dirinya merasakan nyaman dan diterima, namun dengan hilangnya kabar rotasi membuat kecewa.”Kalau memang sistemnya baik yang harus tetap dijalankan,” katanya.
Sayangnya, aspirasi mereka di Gedung Dewan Surabaya tidak tertampung. Sebab, para guru tersebut tidak diterima oleh Wakil Rakyat Surabaya. (lan/dur)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




