Begitulah, bahwa jamiyah Nahdlatul Ulama bukanlah perkumpulan biasa, bukan partai politik atau organisasi profit. Sebuah jam'iyah jauh-jauh dikonsultasikan dulu kepada Tuhan secara serius dan religious, sehingga apa yang diisyaratkan Tuhan diyakini sebagai jawaban ilahiah, meski bukan wahyu.
Tidak ada nafsu emosional sedikit pun dalam pendirian jamiyah ini, semua kiai yang terlibat melakukan suluk total, tajrid dan tafwidl. Makanya, jawaban didapat bukan wisik, bukan wangsit, melainkan langsung kalamullah, al-Qur'an al-Karim.
Dengan jawaban berupa Tek wahyu dan dilakukan oleh kiai-kiai bersih, maka tingkat akurasinya sangat kuat. Meski bukan wahyu, tapi setidaknya ada di bawah level itu. Hal itu merujuk sabda nabi sendiri, bahwa ulama itu pewaris para nabi, kepercayaan para rasul, lentera yang menerangi umat dll. Dan nyatanya begitu. Dari mana asal penduduk negeri ini mengerti soal iman, soal islam, soal shalat, soal agama jika bukan para kiai yang mengajari.
Sengaja dipilih kata Ulama sebagai idhafah merangkai kata Nahdlah, karena ulama hanya punya kepentingan kepada Tuhan saja, lain tidak. Jika dipakai lainnya, politikus -misalnya-, maka Jamiyah ini berpotensi dijual untuk kepentingan politik. Begitu halnya dipakai kata "al-Tujjar" (pedagang), bisa jadi ditawarkan untuk kepentingan bisnis.
Andai semua pengurus bermoral bejat dan abai terhadap NU, andai semua warga tak lagi peduli kepada NU, demi Allah tidak berarti NU mati. Tuhan akan turun tangan menjaga NU. Hal itu karena NU adalah "nur Allah", cahaya-Nya seperti diisyaratkan pada ayat al-Taubah: 32 yang difatwakan kiai Khalil di atas. Dan cahaya Tuhan tidak bisa dipadamkan dan tidak akan pernah bisa padam.
Makanya, jangan berbuat jahat dalam muktamar jamiyah milik Tuhan ini. Karena bisa jadi cahaya keimanan yang ada di dada anda dipadamkan oleh Allah SWT.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




