Amerika Kaya karena Imigran Eropa dan Budak Tak Dibayar

Amerika Kaya karena Imigran Eropa dan Budak Tak Dibayar Donald Trump. Foto: reuter/cnn

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Dahlan Iskan, mantan Meteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mengulas tentang kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menaikkan tarif bea masuk barang ke Amerika Serikat (AS) yang kini menghebohkan dunia. Indonesia sendiri terkena kenaikan tarif sampai 32 %. Tapi pemerintah Indonesia hingga sekarang belum bersikap.

Menurut Dahlan Iskan, Presiden Trump tampaknya merasa bahwa Amerika sekarang sudah miskin. Karena itu Trump melontarkan kredo: Make America Wealthy Again artinya: Jadikan Amerika Kaya Lagi. Yang disingkat MAWA. Solusi yang diambil adalah menaikkan tarif bea masuk darang ke Amerika.

Padahal, menurut Dahlan Iskan, sejarah mengapa Amerika menjadi negara kaya bukanlah karena di zaman dulu mengenakan tarif tinggi untuk barang impor.

”Amerika menjadi kaya karena diisi oleh imigran dari Eropa yang bekerja amat keras karena ingin kaya. Kalau mayoritas penduduknya ingin kaya negara akan menjadi kaya,” tulis Dahlan Iskan, Jumat (4/4/2025).

Tentu ingin kaya lewat kerja keras. “Bukan lewat pengerukan kekayaan alam. Jelaslah mereka bukan imigran bodoh dan miskin. Mereka jadi imigran karena ingin maju. Amerika, awalnya, adalah kumpulan orang yang ingin maju,” tambah Dahlan Iskan.

”Lalu mereka lebih kaya lagi karena mendapatkan buruh yang amat murah. Bukan lagi buruh tapi budak. Tidak dibayar. Atau dibayar sangat rendah. Mereka bekerja di kebun-kebun kapas, tambang dan infrastruktur. Mereka didatangkan dari Afrika dan sedikit dari Tiongkok,” tulis wartawan serba bisa itu.

Menurut Dahlan Iskan, memang imigran yang belakangan masuk ke Amerika (dan Eropa) tidak sama lagi dengan imigran dari Eropa di masa lalu. ''Kualitas'' imigran yang belakangan masuk Amerika adalah kelas pencari kerja. Pencari kehidupan. Bukan pencari kekayaan.

”Begitu besar jumlah imigran pencari kehidupan inilah yang membuat Amerika terlihat bergerak seperti dunia ketiga. Jumlah mereka kian banyak. Datang dari negara yang kian miskin,” tulis Dahlan Iskan lagi.

Karena itu, lanjut Dahlan, orang seperti Elon Musk sudah mulai berbicara soal nasib peradaban kulit putih di masa depan.

"Dalam tiga generasi peradaban Barat sudah akan punah," kata Elon Musk seperti dikutip Dahlan Iskan.

”Maka Trump tidak hanya akan membuat MAWA dan MAGA tapi juga merasa dipilih oleh Tuhan untuk menyelamatkan peradaban Barat,” tulis Dahlan Iskan lagi.

Masalahnya, tegas Dahlan Iskan, dunia sudah telanjur berubah. “Tidak ada lagi perbudakan. Banyak negara yang dulunya miskin sudah menyadari miskin itu susah,” tulis Dahlan Iskan.

Trump, kata Dahlan Iskan, kelihatannya percaya peradaban bisa diubah lewat menaikkan tarif bea masuk ke Amerika.

”Ini seperti sebuah renovasi rumah yang didesain sangat indah. Ia bisa jadi rumah baru yang tak terpermanai. Atau jadi rumah mangkrak yang kusam,” pungkas Dahlan Iskan.