M. Mas'ud Adnan dan Revol Afkar dari BANGSAONLINE saat bertemu Dr Ir H Ahmad Rizki Sadig di Kantor DPW PAN Jatim, Jumat (30/5/2025). Tampak Rizki Sadig didampingi Achmad Rubaie dan Muhammad Fachruddin. Foto: bangsaonline
Menurut Mas’ud Adnan, fenomena PAN ini sangat menarik.
“Di tengah kecenderungan masyarakat – termasuk partai – yang kleptokratik, berorientasi pada materi, PAN justeru tampil beda, meritokratik, menghargai prestasi dan profesionalisme para kadernya. Setidaknya, itulah yang saya dengar saat berinteraksi dengan Pak Achmad Rubaie dan Pak Fachruddin selama ini," kata Mas'ud Adnan.
"Kata beliau-beliau itu, para kader PAN yang tak lolos ke DPR tapi memiliki suara signifikan dalam pencalegan, diberi kompensasi jabatan sebagai staf khusus dan sebagainya, bahkan suaranya dihargai dengan bantuan dana untuk pencalegan berikutnya,” tambah Dewan Pakar Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) itu.
Menurut Mas’ud Adnan, ke depan peta demogafi pemilih bakal mengalami perubahan signifikan. “Banyak para ahli mengatakan bahwa sekitar 60 % sampai 70 % adalah generasi milenial dan Gen Z. Karena itu wajar jika para elit partai mulai membidik segmen anak muda,” ujar mantan Wakil Ketua PW Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Jawa Timur itu.
Hanya saja tak semua elit parpol memiliki kepekaan terhadap fenomena perubahan preferensi ini.
“PAN tampaknya cukup antisipatif. Tapi tetap tergantung pada strategi dan pendekatannya, pas atau tidak, efektif atau tidak, sehingga punya efek elektoral sesuai yang diharapkan. Karena setiap area atau venue pasti berbeda terutama secara sosio kultural, sehingga beda pula pendekatannya. Dan para elit parpol pasti lebih paham soal ini,” tegas penulis sejumlah buku itu. Diantaranya buku Gus Dur hanya Kalah dengan Orang Madura, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, Kiai Miliarder Tapi Dermawan dan beberapa buku lainnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




