“Pada akhirnya, Slamet mau melepas batu itu dengan harga 500 Riyal,” tambah dia.
Kepada RIjal Kani, Slamet bercerita bahwa harga batu miliknya itu kalau di Halmahera Utara harganya mencapai 5 jutaan. Namun karena dia terkesan dengan layanan petugas, batu itu diikhlaskan untuk dijual dengan harga 500 Riyal. “Alhamdulillah batu itu saya yang beli,” kata Rijal Kani.
Nyatanya tidak hanya Rijal Kani yang membeli batu. Beberapa petugas lainnya, termasuk petugas dari Garuda Indonesa yang tidak mau disebutkan namanya juga ikut membeli. Mereka bahkan rela merogoh koceknya hingga 500 – 800 Riyal untuk membeli batu akik jenis Bacan Doko ini.
“Tak kalah ketinggalan,Rijal Kani juga membeli batu akikseharga 500 riyal milik Basuki Rahmat, salah satu jamaah asal Kloter UPG 9 lainnya,” terang Nurul Badruttamam. Bahkan, beberapa ibu petugas kesehatan Daker Airport juga tidak mau kalah ikut membeli batu bacan tersebut.
Batu Bacan merupakan kekayaan alam Maluku Utara yang sudah dikenal sejak tahun 1960-an. Istilah bacan diambil dari nama tempat perdagangan batu tersebut. Sedangkan penghasil batu tersebut adalah Pulau Kasiruta. Pulau ini berada tidak jauh dari Pulau Bacan di Kabupaten Halmahera Selatan. Sedangkan Pulau Bacan merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Halmahera Selatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




