Khariri Makmun.
Karena pejabat publik kita dipenuhi orang-orang dengan kesadaran rendah. Mereka hanya beroperasi dalam logika bertahan hidup, bukan logika melayani. Mereka tidak pernah tercerahkan, bahkan mungkin tidak mengenal apa itu kepekaan spiritual. Mereka pandai beretorika, tetapi miskin kesadaran. IQ tinggi, gelar akademik panjang, tetapi kepekaan batin nyaris nol. Akhirnya, kebijakan yang lahir pun miskin nurani.
Hal ini berbeda dengan negara-negara maju. Jerman, Swiss, dan Australia, misalnya, memiliki sistem politik yang relatif bersih dari kooptasi oligarki. Para pejabatnya berada pada kesadaran lebih tinggi, bukan karena mereka malaikat, melainkan karena sistem politik mereka menuntut transparansi, akuntabilitas, dan integritas. Di Indonesia, sistem justru memelihara kesadaran rendah: partai politik butuh mahar politik, jabatan publik butuh uang sogokan, dan birokrasi beroperasi dengan mental rente.
Jika Indonesia ingin maju, menjadi mercusuar dunia, maka tidak ada jalan lain: pemimpin publiknya harus tercerahkan. Dalam skala Hawkins, minimal level kesadaran mereka harus berada di atas 500. Artinya, mereka harus hidup dengan cinta, welas asih, integritas, dan kebijaksanaan. Mereka bukan lagi budak oligarki, melainkan pelayan rakyat.
Bagaimana cara mencapainya? Pertama, pendidikan politik harus diarahkan pada pembangunan kesadaran, bukan sekadar perebutan kekuasaan. Kedua, partai politik harus direformasi agar tidak dikuasai oligarki. Ketiga, seleksi pejabat publik harus melibatkan uji integritas spiritual, bukan hanya kompetensi teknis. Keempat, rakyat harus cerdas memilih: jangan memilih politisi dengan kesadaran rendah.
Penutup
Ibn Khaldun pernah menulis: “Sebuah negara berdiri karena solidaritas dan runtuh karena ketidakadilan.” Indonesia hari ini berada di persimpangan jalan. Jika terus dipimpin oleh orang-orang dengan kesadaran rendah, maka negara ini hanya akan menjadi ladang oligarki. Namun, jika kita berhasil melahirkan generasi pemimpin tercerahkan, maka Indonesia bisa benar-benar menjadi mercusuar dunia.
Maka, tugas utama bangsa ini bukan hanya melahirkan pejabat yang pintar, tetapi melahirkan pejabat yang tercerahkan. Karena hanya dengan kesadaran tinggi, kekuasaan bisa benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh rakyat.
Penulis adalah Direktur Moderation Corner, Jakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




