Ketua Komunitas Sidoarjo Masa Kuno, Sudi Harjanto.
SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Di balik sejarah panjang Kota Delta, tersimpan kisah menarik tentang keberadaan para pemimpin komunitas Tionghoa pada masa kolonial Belanda.
Meski bukan pejabat militer, mereka memegang peranan penting dalam urusan sosial, ekonomi, dan administrasi etnis Tionghoa di kota delta ini.
BACA JUGA:
Pada masa pasca-VOC, pemerintah Hindia Belanda menerapkan sistem pengendalian sosial dengan menunjuk tokoh-tokoh Tionghoa yang dianggap berpengaruh dan kaya. Mereka diberi pangkat resmi sebagai simbol jabatan sosial dan administratif.
“Pangkat itu dikenal dengan istilah Leutnant der Chinezen, Kapiten der Chinezen, hingga Majoor der Chinezen. Jabatan tersebut setara dengan kepala komunitas Tionghoa di satu wilayah,” kata pegiat sejarah Sudi Harjanto, Ketua Komunitas Sidoarjo Masa Kuno.
Menurut dia, pangkat yang diberikan berbeda di tiap daerah, bergantung pada luas wilayah dan tanggung jawabnya.
“Misalnya di Gresik, pemimpinnya berpangkat kapten karena lingkupnya besar dan banyak aktivitas perdagangan. Sedangkan di Sidoarjo, yang ditunjuk hanya berpangkat letnan, karena skalanya lebih kecil,” tuturnya.
Dalam catatan sejarah, tercatat beberapa tokoh Tionghoa yang pernah menjabat sebagai Luitenant der Chinezen di Sidoarjo, antara lain:
- Kwee Soei Toan (dilantik 10 Januari 1866)






