Menteri Desa PDTT Yandri Susanto didampingi Bupati Yuhronur Efendi saat meninjau tambak lele yang menjadi bidang usaha salah satu KDMP di Lamongan.
Sedangkan 429 KDMP di Kabupaten Lamongan sudah terdaftar di Sistem Informasi Manajemen Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Simkopdes). Lalu untuk omzet yang didapat dari KDMP yang sudah beroperasi adalah, 455 juta rupiah lebih.
Menurut Yuhronur, KDMP di Lamongan bergerak di berbagai sektor vital untuk ekonomi desa, meliputi perdagangan (toko retail, kebutuhan pokok), pertanian, perikanan & kelautan, serta jasa (pengelolaan sampah), melengkapi layanan simpan pinjam dan bertujuan memperkuat ekonomi lokal serta ketahanan pangan dengan kemitraan strategis.
Ia mengungkapkan sebelum ada program KDMP, badan usaha milik desa di Kabupaten Lamongan sudah tercatat aktif. Sehingga, ada 18 Bumdes di Lamongan berstatus maju dan 22 berstatus berkembang.
Salah satu Bumdes yang maju adalah Bumdes yang hari ini ditinjau di wilayah Plosowahyu yang bergerak di bidang kambing perah dan budi daya ikan lele.
Menurut Menteri Desa, pemberdayaan desa sangat penting. Karena memiliki dampak langsung dalam membantu mengentas kemiskinan. Ia yakin hadirnya KDMP mampu memperbaiki dan mengakselerasi lembaga perekonomian di pedesaan.
"Pemberdayaan desa bersifat sangat penting, karena memiliki dampak langsung pada pengentasan kemiskinan. Saat ini lembaga perekonomian di desa sedang diupayakan optimal melalui KDMP dan Bumdes," tutur Menteri Desa.
Hadir pada kesempatan tersebut Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Ahmad Riza, Sekretaris Utama BNN RI Tantan Sulistyana, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Ketua Umum Apdesi MP Anwar Sadat, Ketua DPD RI Suktan Bachtiar, Direktur Fasilitasi Kerjasama LPD dan BPD Kementerian Dalam Negeri Zanariah, dan Kepala BNNP Jawa Timur Budi Mulyanto. (qom/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




