Salah satu anggota Tim Osmoinc ITS saat merakit komponen penting pada alat pembuat telur asin. (Ist)
Lebih lanjut, Mahen menuturkan bahwa inkubator otomatis tersebut dirancang dengan lima tahapan utama. Tahap pertama dibagi menjadi tiga subtahap yang dimulai dari perancangan sistem, penentuan kondisi operasi, hingga pembuatan model prediksi kemasiran.
“Setelahnya, dilakukan pengujian kelengkapan komponen, pengujian fungsional dan hasil produk Osmoinc, serta diakhiri dengan uji coba calon pengguna,” kata mahasiswa asal Madura tersebut.
Mahen juga menjelaskan bahwa pembuatan telur asin menggunakan Osmoinc terbagi menjadi empat tahapan penting. Tahap pertama, yaitu perendaman telur menggunakan asam asetat 15 persen selama lima menit. Selanjutnya, asam asetat dikeluarkan dengan pembilasan menggunakan air bersih, lalu dilakukan perebusan telur menggunakan NaCl 30 persen selama empat jam pada suhu 70 celsius. Tahap akhir, dilakukan pengecekan kemasiran melalui sensor NIR pada telur yang sudah direbus.
Walau terlihat kompleks, Mahen memastikan beberapa manfaat pokok terkandung melalui proses produksi alat ini. Contohnya, telur asin akan memiliki penetrasi garam yang lebih efisien dan daya simpan telur yang lebih meningkat.
“Selain itu, telur asin yang semula cepat tumbuh mikroba, ketika menggunakan Osmoinc akan mengurangi kembangbiaknya sehingga mudah dikendalikan,” pungkasnya. (msn)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




