Proses pembangunan jembatan di Aceh hasil donasi konser DA7 di Pamekasan
PAMEKASAN,BANGSAONLINE.com - Konser amal Valen DA7 yang digelar di Kabupaten Pamekasan pada 1 Januari 2026 berhasil menghimpun donasi sebesar Rp1,1 miliar untuk membantu warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Penggalangan donasi kemanusiaan tersebut dikoordinasikan langsung oleh CEO PT Bawang Mas Group, H. Khairul Umam atau H. Her.
Selain mengumpulkan dana, ia juga mengerahkan tim relawan untuk memastikan bantuan disalurkan secara langsung dan tepat sasaran kepada masyarakat terdampak.
Salah satu realisasi dari donasi itu adalah pembangunan jembatan di Desa Matang Panyang, Kecamatan Nurussalam, Kabupaten Aceh Timur.
Jembatan tersebut menjadi akses penting yang menghubungkan Kecamatan Nurussalam dengan Kecamatan Darul Amman, tepatnya antara Desa Matang Panyang dan Desa Bagok Panah.
Pembangunan jembatan dilakukan secara gotong royong oleh Relawan Bawang Mas Group bersama personel TNI setempat.
Jembatan itu diberi nama Jembatan Tretan Madura-Aceh sebagai simbol persaudaraan dan solidaritas antardaerah.
Peletakan batu pertama pembangunan jembatan dilaksanakan pada hari ke-10 keberadaan relawan di Aceh, Selasa (20/1/2026).
Selain pembangunan infrastruktur, donasi Konser Valen DA7 juga disalurkan dalam berbagai bentuk bantuan lainnya. Bantuan tersebut mencakup dukungan sektor pendidikan hingga pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
“Donasi juga kami salurkan dalam bentuk pakaian, makanan, santunan anak yatim, hingga ribuan Al-Qur’an dan sembako. Bahkan kami turut menyalurkan material bangunan untuk hunian sementara,” jelasnya saat dikonfirmasi melalui telepon, Rabu (28/1/2026).
Azif menambahkan, penyaluran bantuan tidak hanya terfokus di Aceh, tetapi juga menjangkau wilayah Sumatra Barat dan Sumatra Utara.
Sementara itu, relawan lainnya, M. Khairul Umam, mengatakan proses penyaluran donasi di tiga provinsi tersebut memerlukan waktu sekitar 15 hari. Adapun pembangunan jembatan ditargetkan selesai dalam waktu 30 hari.
“Menjadi relawan bukan hanya soal fisik, tapi juga mental. Kami harus melewati jalan berlumpur, medan terjal, melawan arus sungai, bahkan sungai yang diketahui ada buayanya,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan pesan reflektif di balik misi kemanusiaan tersebut.
“Ini menjadi pengingat betapa pentingnya menjaga dan merawat lingkungan. Dampak kerusakannya sangat luar biasa, seperti yang kita saksikan di Aceh dan wilayah Sumatra lainnya,” pungkasnya. (bel/dim/van)






