Gede Aditra Pradnyana (Adit) saat presentasi disertasinya dalam sidang promosi doktor di Departemen Teknik Elektro ITS. (Ist)
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Lulusan program doktoral Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Gede Aditra Pradnyana merancang model sistem deteksi depresi berbasis sumber data dari penggunaan medsos menggunakan Artificial Intelligence (AI) multimodal.
Sistem deteksi depresi ini ia kembangkan atas dorongan maraknya pengguna smarphone dan medsos yang menyebabkan kondisi mental masyarakat menjadi dinamis.
BACA JUGA:
- Lebih Efisiensi dan Cepat, Doktor ITS Ciptakan Pendeteksi Kerusakan Jalan Berbasis AI
- Dosen ITS Gagas Penyembuhan Kanker Anak Melalui Pendekatan Multisensory Healing Model
- Barunastra ITS Luncurkan Kapal Otonom Terbaru, Siap Ikuti Lomba IRC di Florida
- Kolaborasi ITS dan ASU Selenggarakan Kompetisi Inovasi Semikonduktor
Bahkan, Adit menjelaskan bahwa kasus bunuh diri yang disebabkan oleh depresi menjadi salah satu permasalahan genting dalam hal kemanusiaan. Ketakutan untuk mengungkapkan masalah kehidupan secara langsung, baik kepada psikolog, psikiater, maupun kerabat dekat masih menjadi hambatan bagi mayoritas orang. Menurut Adit, sebagian orang lebih sering meluapkan perasaan gelisah dan persoalan yang rumit ke medsos.
Adit mengusulkan pendekatan deteksi depresi secara non-intrusif berbasis jejak digital. Melalui pendekatan ini, sistem yang dibangun mampu memberikan informasi awal secara cepat, mendukung intervensi diri, dan berfungsi sebagai pelengkap asesmen klinis konvensional.
“Pendekatan ini bukan hanya memerlukan sensor fisiologis, melainkan juga memanfaatkan pola ekspresi multimodal sebagai indikator awal,” jelas Adit, Rabu (18/2/2026).
Model yang dikembangkan bernama DeXMAG, yakni gabungan antara Cross-Modal Attention and Adaptive Gated Fusion dengan fitur Myers Briggs Type Indicator (MBTI). Lebih jelasnya, kombinasi dari kerangka kerja multimodal deep learning yang dipersonalisasi oleh tipe kepribadian pengguna. Oleh karena itu, sistem yang dimiliki dapat meningkatkan performa deteksi depresi dari data media sosial.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




