Nvidia Bantah AI Ancam Software, Optimistis Industri Kian Efisien

Nvidia Bantah AI Ancam Software, Optimistis Industri Kian Efisien CEO Nvidia, Jansen Huang. Foto: Shutterstock

JAKARTA, BANGSAONLINE.com - CEO Nvidia, Jansen Huang, menilai pasar keliru dalam membaca ancaman AI terhadap industri perangkat lunak. Dalam wawancaranya dengan CNBC, Huang menegaskan bahwa anggapan agen AI akan mematikan sektor perusahaan perangkat lunak. “Saya rasa pasar salah,” ujarnya.

Menurut Huang, mayoritas perusahaan software justru akan memanfaatkan agen AI untuk memperkuat produk dan mendongkrak efisiensi. Ia menegaskan bahwa agen AI bukan pengganti perangkat lunak, melainkan akan berperan sebagai pengguna berbagai alat tersebut. “Karena itu kami menyebut agen sebagai pengguna tool,” katanya.

Ia menyebut, browser internet dan Microsoft Excel sebagai alat yang akan terpakai. "Semua tool yang kita pakai saat ini entah itu Cadence, Synopsys, ServiceNow, atau SAP, alat-alat ini ada karena alasan yang pada dasarnya kuat. Agen AI akan jadi software cerdas yang menggunakan alat-alat tersebut untuk kita dan membantu kita menjadi lebih produktif," tambah Huang.

Pernyataan ini ia sampaikan, setelah Nvidia melaporkan pendapatan kuartal keempat fiskal yang melonjak 73 persen menjadi USD 68,13 miliar, melampaui proyeksi analis sebesar USD 66,21 miliar. Perusahaan juga memberikan panduan optimistis untuk kuartal pertama fiskal dengan estimasi pendapatan USD 78 miliar, lebih tinggi dibandingkan perkiraan analis USD 72,6 miliar.

Sebelumnya, investor sempat mencemaskan bahwa lonjakan belanja perangkat keras AI dalam skala besar tidak akan berlangsung lama dan berpotensi memicu gelembung.

Di sisi lain, sham penyedia layanan software mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir.

"Orang perlu ingat bahwa segalanya, baik itu jalur kereta api, kanal, internet, semua cenderung dibangun secara berlebihan dan kemudian kita akan melihat siapa yang akan jadi pemenang dan pecundang," kata Dan Niles, manajer Niles Investment Management.

Niles juga menilai tidak semua perusahaan akan selamat ketika AI mulai mengotomatisasi proses kerja, menekan harga, serta mempermudah pemain baru masuk ke pasar.

"Ada beberapa perusahaan nyata yang akan menjadi nol (bangkrut) di ruang perangkat lunak," kata Niles. Ia menambahkan bahwa pemain yang paling tangguh akan berada di sektor basis data dan keamanan siber. (*)