Prof. KH. Imam Ghazali Said saat menyampaikan pemaparannya di acara Halal Bihalal dan Bedah Buku di Surabaya. (Ist)
BANGKALAN, BANGSAONLINE.com – Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, MA, mendorong Badan Silaturahmi Ulama Madura (Bassra) agar bergerak lebih responsif dan berkelanjutan dalam merespons berbagai persoalan umat di Madura. Dia berharap, Bassra tidak hanya bersikap reaktif terhadap isu-isu yang muncul sesaat.
Hal ini ia sampaikan saat Halal Bihalal Bassra dan Bedah Buku Potret Perjuangan Ulama Madura yang digelar di Surabaya (10/4/2026).
BACA JUGA:
- Tuntut Madura Jadi Provinsi, Tokoh Madura Mau Ajak 1.000 Kiai ke Istana
- Wacana 1.000 Ulama Madura Temui Presiden Menguat di Halal Bihalal Bassra
- Taushiyah di Pelantikan Pergunu-JKSN Kalteng, Kiai Asep Ngaku pernah Melamar Jadi Tukang Parkir
- Bedah Buku KH Hasyim Asyari: Pemersatu Umat Islam Indonesia, Khofifah: Dahysat Secara Substansi
Dalam penyampaiannya, Prof. Imam Ghazali juga mengapresiasi para penulis yang mulai mendokumentasikan berbagai peristiwa penting di Madura. Menurutnya, masih banyak momentum sejarah dan peran ulama yang belum tercatat dengan baik, sehingga rawan hilang seiring berjalannya waktu.
Ia mencontohkan, pada masa akhir Orde Baru, ulama Madura menunjukkan keberanian dalam menyikapi situasi sosial-politik. Namun, catatan tentang peran tersebut masih minim.
“Banyak peristiwa penting yang tidak ditulis, akhirnya hilang begitu saja,” kata Prof Imam.
Ia juga menyoroti dinamika gerakan Bassra saat ini. Menurutnya, perlu ada kejelasan apakah gerakan yang dilakukan bersifat reaktif atau benar-benar responsif dan terukur. Ia menilai, gerakan yang hanya muncul saat isu sedang hangat cenderung tidak berkelanjutan dan cepat mereda.
Sebaliknya, gerakan responsif dinilai harus memiliki arah yang jelas, terukur, serta terus bergulir dalam menjawab persoalan umat secara konsisten. Tanpa itu, keberadaan organisasi dikhawatirkan menjadi tidak terasa di tengah masyarakat.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




