Prof. KH. Imam Ghazali Said saat menyampaikan pemaparannya di acara Halal Bihalal dan Bedah Buku di Surabaya. (Ist)
Mengutip pemikiran Deliar Noer, Prof. Imam juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan kepemimpinan dalam organisasi. Ia menegaskan bahwa Bassra tidak boleh bergantung pada figur pendiri semata, melainkan harus menyiapkan regenerasi yang kuat.
“Organisasi besar tidak boleh berhenti ketika pendirinya tidak lagi aktif. Harus ada kaderisasi yang jelas,” tegasnya.
Dalam konteks yang lebih luas, ia menyoroti pergeseran peran sosial ulama di Madura.
Menurutnya, selama ini ulama memiliki posisi sentral dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Namun, dalam beberapa momentum politik lokal, peran tersebut mulai mengalami pergeseran.
Ia mencontohkan dinamika politik di beberapa daerah seperti Sumenep dan Bangkalan, yang menunjukkan adanya perubahan pengaruh ulama dalam kontestasi kekuasaan.
Meski demikian, Prof Imam menegaskan bahwa peran ulama tidak boleh semata-mata diukur dari kekuasaan politik. Yang lebih penting adalah bagaimana ulama tetap hadir dalam membina umat dan menjaga kearifan lokal di Madura.
“Ulama harus tetap menjadi pusat pembinaan umat. Jika tidak, peran itu bisa tergeser oleh kelompok lain,” pungkasnya. (uzi/msn)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




