Kedatangan jemaah haji Embarkasi Surabaya (SUB) langsung menuju Makkah untuk melakukan ibadah umrah wajib. Foto: MCH 2026.
JEDDAH, BANGSAONLINE.com - Muhammad Fathi Banna Al Faruqi, salah satu dokter Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026, Sektor 1 Daker Bandara, mengajak seluruh jemaah untuk menyulap tas menjadi “apotek mini” jelang Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Ia menjabarkan beberapa peralatan medis yang perlu dibawa agar bisa melakukan pertolongan pertama secara mandiri jika terjadi keluhan.
BACA JUGA:
- Tertibkan Tenda Armuzna Sesuai Nama, Kemenhaj Ancam Cabut Izin KBIHU yang Langgar Aturan
- Kloter Terakhir Jemaah Haji Reguler Indonesia Tiba di Jeddah
- Timwas Haji DPR RI Apresiasi Layanan Makkah Route untuk Jemaah Indonesia
- Lepas Kloter Terakhir Jamaah Haji Embarkasi Surabaya, Gubernur Khofifah: Jaga Kesehatan dan Ibadah
“Di Armuzna, kepadatan jemaah haji yang luar biasa dan jarak ke pos kesehatan bisa terasa sangat jauh. Jemaah disarankan memiliki P3K mandiri di dalam tas kecil. Tujuannya agar keluhan ringan bisa langsung ditangani sendiri secara cepat sebelum menjadi berat,” papar dr. Fathi melalui pesan singkat WhatsApp, Rabu (20/5/2026).
Beberapa obat wajib yang perlu di bawa, di antaranya oralit minimal 5 hingga 10 saset, pelembab yang mengandung petroleum jelly (tidak mengandung parfum).
“Oleskan pelembab di paha bagian dalam dan tumit sebelum mulai berjalan jauh. Ini ampuh mencegah lecet yang bisa membuat jemaah sulit berjalan ke Jamarat,” kata dr. Fathi.
Selain itu, jemaah juga diimbau membawa obat pereda nyeri atau parasetamol. Karena menurut dr. Fathi, obat ini ralatif aman untuk kebanyakan orang.
“Parasetamol juga ramah terhadap lambung dan jantung,” ungkapnya.
Tak lupa, ia juga mengingatkan jemaah untuk membawa obat-obatan pribadi yang bisa digunakan untuk 5 hingga 6 hari, plester luka, obat maag dan diare, termasuk minyak kayu putih atau aroma terapi.
Agar lebih praktis saat dibawa, ia menyarankan obat dimasukkan ke dalam plastik bening, tujuannya agar mudah melihat isinya, dan pastinya terhindar dari tumpahan air atau keringat.
Terakhir, dia juga mengingatkan seluruh jemaah untuk membawa botol semprot untuk mendinginkan suhu kulit secara instan saat terpapar matahari.
“Meski bukan obat, alat ini wajib ada untuk mendinginkan suhu kulit secara instan saat terpapar matahari selama fase Armuzna. P3K mandiri adalah adalah salah satu modal penting untuk tetap sehat dan mandiri selama menjalani puncak haji,” pungkas dr. Fathi. (msn)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




