Amirulhaj Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA di Atafah. Foto: Mohammad Sulthon Neagara/bangsaonline
Dengan demikian, tegas Kiai Asep, Arafah menjadi titik balik kehidupan manusia. Artinya, orang yang selama ini mungkin kurang punya komitmen maksimal terhadap hukum-hukum syariat, maka dengan banyak beristigfar yang disertai dengan tiga hal itu, menjadi punya komitmen kuat terhadap syariat atau hukum-hukum Allah.
“Maka mereka melakukan titik balik dari ketidaktaatan menjadi ketaatan maksimal,” ujarnya.
Selain banyak berdoa, menurut Kiai Asep, ketika kita berada di Arafah harus lebih banyak baca talbiyah. Yaitu baca Labbaik allahumma labbaik.
“Tetapi jangan hanya sekedar baca, ya Allah saya penuhi panggilanMu, tapi apa sih maknanya?,” ujarnya lagi.
Menurut Kiai Asep, harus ada tekad dan niat untuk berkomitmen melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.
“Ya Allah kami akan berkomitmen senantiasa untuk melaksanakan perintah-perintahMu dan menjauhi larangan-laranganMu. Artinya, setiap talbiyah adalah sebuah komitmen. Itulah arti wukuf di Arafah,” ujar Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, bacaan-bacaan yang dilaksanakan di Arafah itu terkait dengan doa. “Ketika Allah mengampuni dosa, orang yang diampuni dosanya, maka Allah akan mengabulkan doanya,” ujarnya.
Kiai Asep juga minta para jemaah haji Indonesia juga mendoakan negara Indonesia.
“Saya meminta kepada seluruh jemaah haji Indonesia banyak-banyak istighfar dan berdoa untuk bangsa negaranya agar maju adil makmur. Capek, penat kita. Telah merdeka 81 tahun tapi belum terasa adanya cita-cita luhur itu dirasakan oleh masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Karena itu Kiai Asep minta para jemaah haji ikhlas berdoa untuk bangsa Indonesia.
“Berdoalah semoga Indonesia mampu jadi Indonesia yang mewujudkan cita-cita kemerdekaannnya, yaitu melakukan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Indonesia itu negara yang paling kaya di dunia, bisa jadi, tapi kenapa realisasinya seperti itu,” ujarnya sedih sembari mengatakan bahwa Presiden Prabowo dan Wapres Gibran punya tekad mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan.
“Ya tentu melihat masalah itu harus melihat tujuannya, al-umur bimaqashidiha,” ujarnya. (MSN)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




