Gus Bahar. Foto: dok. pribadi
Menariknya, ketika seseorang berhenti menggantungkan dirinya kepada manusia, justru ia menjadi lebih ringan dalam mencintai manusia. Ia membantu tanpa banyak berharap balasan. Ia memberi tanpa terus-menerus menghitung penghargaan. Ia bekerja tanpa sibuk mencari pengakuan.
Jika dihargai, ia bersyukur. Jika tidak dihargai, ia tetap melangkah. Bukan karena ia tidak punya perasaan, tetapi karena ia sudah tahu ke mana harus meletakkan harapan yang paling dalam.
Dalam kearifan lama yang indah, ada ungkapan: menanam kebaikan tidak perlu gaduh. Pohon mangga tidak pernah mengumumkan dirinya sedang berbuah. Ia cukup tumbuh, berbunga, lalu orang-orang datang sendiri ketika buahnya matang.
Demikian pula dengan kebaikan. Tidak semua niat baik harus dipahami saat ini. Tidak semua ketulusan harus diakui hari ini juga.
Kadang tugas kita hanyalah melakukan yang benar, lalu membiarkan waktu dan Yang Maha Mengetahui menjelaskan sisanya. Kita tidak harus membela diri setiap kali disalahpahami. Kita tidak harus meyakinkan semua orang tentang ketulusan kita. Cukup terus berjalan di atas kebaikan, karena kebenaran tidak akan selamanya tertutup kabut.
Sering kali yang membuat hati letih bukanlah beratnya pekerjaan, melainkan banyaknya harapan yang kita gantungkan kepada manusia. Kita ingin dimengerti, dihargai, dibela, dianggap baik. Padahal semakin dewasa seseorang, semakin ia sadar bahwa tidak semua itu bisa didapatkan sekaligus.
Ada kalanya kita harus tetap berjalan meskipun disalahpahami. Tetap tersenyum meskipun dicurigai. Tetap berbuat baik meskipun tidak dianggap. Tetap mendoakan meskipun tidak dibalas dengan doa.
Sebab nilai sebuah kebaikan tidak ditentukan oleh banyaknya tepuk tangan yang mengiringinya. Jika setiap langkah kita menunggu pengakuan manusia, kita akan mudah berhenti di tengah jalan. Tetapi jika langkah itu lahir dari keyakinan bahwa ada Dzat Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui, perjalanan akan terasa lebih tenang. Mungkin tidak lebih mudah, tetapi jauh lebih tenang.
Pada akhirnya, hidup ini mengajarkan satu hal yang sederhana namun dalam. Tidak semua orang akan memahami kita. Tidak semua orang akan menerima kita. Tidak semua orang akan berjalan bersama kita. Dan itu tidak apa-apa. Sebab tujuan hidup bukanlah membuat semua manusia ridha kepada kita.Tujuan hidup adalah menjaga hati agar tetap dekat dengan Yang Menciptakannya, meskipun manusia datang dan pergi silih berganti.
Ketika seseorang sampai pada pemahaman ini, ia tidak lagi terlalu sibuk mengejar penilaian manusia. Ia akan lebih sibuk menjaga niat, memperbaiki diri, dan melanjutkan kebaikan yang bisa ia lakukan. Ia tidak mudah hancur oleh celaan, juga tidak mudah terbuai oleh pujian. Iatahu bahwa keduanya adalah ujian yang sama beratnya.
Yang paling penting dalam hidup bukanlah berapa banyak orang yang mengenal kita. Melainkan: ketika semua suara manusia meredup—ketika tidak ada lagi yang memuji, tidak ada lagi yang mencela, tidak ada lagi yang mendukung, juga tidak ada lagi yang meninggalkan—apakah hati kita masih tahu kepada siapa ia harus pulang?
Jika jawabannya adalah kepada Yang Maha Tahu lagi Maha Bijaksana, maka tenanglah. Karena Dia tidak pernah salah paham. Dia tidak pernah berubah. Dia selalu mengetahui tulusnya niat baik kita, bahkan ketika seluruh dunia meragukan.
Maka berhentilah lelah karena hal yang sia-sia. Luruskan niat setiap hari. Lanjutkan berbuat baik tanpa menggantungkan hasil pada tepuk tangan. Dan serahkan sisanya kepada Pemilik sejati ketenangan. Karena kemudi itu hanya pantas berada di tangan yang paling kita percayai.
Disanalah ketenangan sejati bersemayam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




