PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Anggota DPRD Pamekasan Hosnan Ahmadi menilai bila hanya produk batik yang baru bisa diandalkan sebagai usaha kecil menengah dan mampu bersaing pada momentum masyarakat ekonomi Asean (MEA).
"Di sektor lokal kita hanya mampu bersaing dari usaha batik, karena tingkat pertumbuhan dan perkembangannya menanjak. Selain itu, batik juga sebagai usaha UMKM," kata Hosnan Achmadi, Kamis (21/1).
BACA JUGA:
- Kunker ke Pamekasan, Mensos Gus Ipul Bakal Evaluasi Usai Dugaan 40 Persen Bansos Tak Tepat Sasaran
- Pelantikan Dekopinda Pamekasan, Bupati Sebut Gelontorkan Hampir Rp2 M untuk UMKM dan Koperasi
- Bea Cukai Madura Didesak Usut Dugaan Pabrik Rokok Bermasalah
- Kasus Kekerasan Seksual Anak Perempuan di Pamekasan Naik, Faktor Keluarga Tak Harmonis Jadi Pemicu
Usaha batik memang terbilang menjanjikan daripada usaha lainnya, apalagi daerah yang identik dengan slogan Bumi Gerbang Salam, juga sudah disematkan sebagai Kota Batik. "Jenis usaha yang bisa dipertaruhkan dalam MEA ini, khusus Pamekasan, hanya batik. Sementara yang lain belum bisa," ungkapnya.
"Soalnya, kalau berbicara tentang batik Madura. Tentu batik Pamekasan yang akan menjadi prioritas," tegas politisi Partai Amanat Nasional (PAN), yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi II DPRD Pamekasan itu.
Hanya saja pihaknya minimnya jiwa kewirausahaan dan kemampuan ekonomi di instansi terkait, mengakibatkan produk batik batik cenderung stagnan. "Birokrasi tidak memiliki jiwa interprener, dan kemampuan ekonomi kita tidak terbuka. Bahkan cenderung stagnan dengan produk lama," jelas Hosnan.
"Dibutuhkan inisiatif dan motivasi langsung dari sektor UMKM untuk mendorong para pengusaha, misalnya akses pemodalan, pemasaran, pelatihan dan lain sebagainya," pungkasnya. (ber/ros)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




