KORBAN: Pasien DBD saat dirawat di rumah sakit Mojowarno. foto: rony suhartomo/ BANGSAONLINE
JOMBANG, BANGSAONLINE.com - Pemkab Jombang merilis jumlah penderita DBD selama Januari 2016 sebanyak 235 orang. Padahal, data di 2 rumah sakit menunjukkan jumlah penderita DBD sepanjang Januari mencapai 435 orang.
Hal ini tentu menimbulkan kecurigaan. Sebab, selisihnya mencapai 200 lebih penderita. Ditengarai, hal ini sengaja dilakukan Pemkab Jombang untuk menghindari status kejadian luar biasa (KLB).
BACA JUGA:
- Perkuat Pembangunan, DPRD Jombang Bahas Raperda Jasa Konstruksi
- Tingkatkan Kualitas Infrastruktur, DPUPR Jombang Sertifikasi 60 Operator Alat Berat
- Lewat Program Balik Gratis 2026, Pemkab Jombang Berangkatkan 300 Warga ke Jakarta
- Pastikan Stabilitas Pangan Jelang Ramadan, Bapanas dan Pemkab Jombang Pantau Harga di Pasar Pon
Hasil pantauan di lapangan, pasien DBD paling besar dirawat di RSUD Jombang dan RSK Mojowarno.
Kabag Umum RSK Mojowarno Sunu Hastuti mengatakan, sepanjang Januari 2016, jumlah penderita DBD yang dirawat mencapai 215 orang. Ratusan pasien itu merupakan rujukan dari beberapa puskesmas di Mojowarno dan sekitarnya. Seperti dari Puskesmas Bareng, Cukir, Mojoagung, dan Wonosalam.
"Angka ini sudah kami laporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. Kasus DBD setiap hari langsung kami laporkan," kata Hastuti kepada wartawan, Selasa (2/2/2016).
Sementara Direktur RSUD Jombang dr Pudji Umbaran juga merilis jumlah penderita DBD yang dirawat sepanjang Januari 2016 mencapai 220 orang. Dia juga menegaskan jika kasus DBD tersebut sudah dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang.
"Sampai akhir Januari ini kita rawat 220 penderita DBD. Sudah kami sampaikan ke Dinas Kesehatan Jombang," ujarnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




