Namun yang paling penting, imbuh dia, menumbuhkan generasi pembatik di Bumi Blambangan. “Ini memang salah satu upaya kami agar warisan adiluhung kita ini tidak lekang oleh jaman. Menjaga agar masyarakat terus memiliki keinginan untuk menjaga batik dan mengembangkannya,” ujar Hary.
Dia melanjutkan, lomba ini sengaja menyasar pelajar SD karena bertujuan juga untuk menumbuhkan jiwa entrepreunership sejak dini kepada anak-anak Banyuwangi. "Jadi lewat lomba ini kita berusaha membentuk karakter untuk berkreativitas. Anak-anak SD ini sebagai embrio wirausaha masa depan,” imbuh dia.
Hary menjelaskan, potensi batik Banyuwangi saat ini semakin menunjukkan kemajuan. Sudah banyak sekolah yang memasukkan teknik membatik sebagai salah satu pilihan ektra kurikulernya. Bahkan daerah berjuluk The Sunrise of Java ini telah memiliki SMK yang menyediakan jurusan membatik.
Motif batik di Banyuwangi sendiri juga semakin bertambah dan mengalami peningkatan kualitas. Hary menyebut, peningkatan itu juga memberikan dampak bagi sektor ekonomi kreatif masyarakat.
"Semula hanya ada 9 IKM (industri kecil menengah), sekarang kurang lebih sudah ada 30-40. Batik kita juga dulu hanya ada 22 motif, sekarang sudah ada 62. Yang jelas meningkat banget, peminatnya bukan hanya masyarakat kita tapi juga dari luar daerah ," jelas Hary. (bwi1/dur/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




