Jeans Bekas dan Karung Goni Disulap Jadi Tas

Jeans Bekas dan Karung Goni Disulap Jadi Tas Tampilan tas dari celana jean bekas. foto: rizki darmawan/ BANGSAONLINE

SIDOARJO, BANGSAONLINE.com – Celana jeans bekas dan karung goni yang tak terpakai biasanya dibuang begitu saja. Lain halnya yang dilakukan oleh Devi Indah Bestari, celana jeans bekas dan karung goni tersebut disulap menjadi tas handmade yang unik. 

Saat ditemui di rumahnya, Jumat (14/10/2016) pagi, Devi menceritakan awal mula bisnisnya. Ia mengaku bersama suaminya, Andika Prasetyo, sudah menjalani usaha ini sejak 2013.

Mereka disibukkan dengan menjahit dan membungkus puluhan tas dari celana jeans bekas dan karung goni. Mereka berdua menjalani usaha yang diberi nama Flurry Indonesia di Perumahan Pucang Indah, Sidoarjo.

Pihaknya menjelaskan bahwa celana-celana tersebut diperolehnya dari penjual di pasar loak yang berada di Surabaya. Namun, sebelum diolah, bahan tersebut dicuci dahulu dan kemudian akan dijadikan tas. Dirinya mengaku bahwa harga tersebut sudah terjangkau dibandingkan dengan harga-harga tas di pihak lain. “Kalau di luar sana kan harganya bisa lebih mahal, Misal disana harganya Rp 600-700 ribu, kita bisa jual separo harga,” ujar dia.

Devi mengatakan banyak yang membuat tas seperti miliknya. Namun, yang membedakan dengan tas lain dan juga yang menjadikan tasnya mahal adalah aplikasi tali yang menggunakan kulit asli. Bahkan, tali kulit itu bisa di-custom bercorak batik atau nama si pemilik.

Sehingga dirinya mengaku banyak pesanan yang datang dengan jumlah yang besar hingga mencapai ribuan tas. Namun, pekerjaan tersebut tidak dikerjakannya sendiri melainkan dibagi kepada pengrajinnya sebanyak 22 orang. "Mau gimana lagi, ini sudah jadi pekerjaan utama kami," ucap dia.

Devi mengungkapkan juga sebelumnya suaminya bekerja sebagai manajer Toko Buku Togamas. Namun memutuskan berhenti dan serius mengembangkan FI bersamanya.Dan pihaknya juga menginginkan produk dalam usahanya bisa bermanfaat bagi konsumennya.

Kini, nama Devi semakin dikenal di kalangan pengusaha tas lainnya. Ditambah lagi, setelah dirinya telah membuat dua buku panduan membuat kerajinan tas yang menjadi best seller.

Disisi lain, dirinya pun juga membuka pelatihan dan mentoring untuk membuat kerajinan tas bagi orang yang berminat. Ratusan orang telah mengikutinya dan puluhan di antaranya banyak yang sudah membuka usaha sendiri. “Kemarin di Situbondo banyak yang menginginkan kotanya menjadi jujukan dalam mengembangkan usaha tersebut,”ungkap dia. (rizkyalvian/UTM)