Kabid Pengembangan Kapasitas Satpol PP Surabaya, Deny C. Tupamahu menuturkan, mulai Januari hingga 22 November 2016, total kenakalan remaja yang dijumpai tim satpol PP sebanyak 793 kasus. Rinciannya, 597 laki-laki dan 196 perempuan. Angka ini mengalami peningkatan jika dibanding tahun lalu sebanyak 675 kasus.
Namun demikian, menurut Deny, kenaikan temuan tidak bisa serta-merta disimpulkan bahwa kenakalan remaja di Surabaya meningkat. Pasalnya, pada 2016 ini, satpol PP melebarkan sayap sasaran razia dan lebih aktif menggelar operasi kenakalan remaja. Utamanya di warkop yang kini sudah menjadi lokasi rutin razia.
“Tahun lalu, warkop belum masuk sasaran utama kami. Tapi, karena jumlahnya ternyata cukup tinggi, maka dari itu tahun 2016 ini kami intensifkan razia di warkop-warkop pada saat jam sekolah,” tukasnya.

Mulai Gunakan IT
Tahun ini, tepatnya Juli 2016, Satpol PP mulai memanfaatkan teknologi informasi dalam mengolah data hasil razia. Skema yang diberi nama Sistem Informasi PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) Kota Surabaya itu masih dalam tahap trial. Rencananya, sistem tersebut dimanfaatkan secara maksimal pada 2017 mendatang.
Kasie Program Bidang Pengembangan Kapasitas Satpol PP, Bagus Supriadi menyatakan, dengan cara manual, untuk meng-cluster data dan jumlah razia membutuhkan waktu lama. Namun, dengan sistem ini, kebutuhan informasi dapat tersaji secara cepat dengan hanya menekan tombol saja.
“Variabel data yang diinginkan bisa diatur dengan mudah, seperti nama, usia, latar belakang kasus, lokasi penangkapan dan sebagainya,” katanya.
Sistem informasi yang terintegrasi dengan data Dinsos Surabaya ini juga dapat membantu pencarian orang hilang. Dengan memasukkan nama atau ciri-ciri lain dari orang yang dicari, dapat diketahui apakah orang tersebut pernah terjaring razia satpol PP. “Riwayat mereka yang pernah terjaring razia satpol PP terekam jelas dalam sistem ini,” pungkas Bagus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




