Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko foto: RONY S/ BANGSAONLINE
JOMBANG, BANGSAONLINE.com - Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko mengaku khawatir akan kaburnya para invenstor pasca ditetapkannya Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) Jombang sebesar Rp 2.082.730.
"Sebelumnya banyak invenstor yang sudah melirik kawasan utara Brantas untuk menjadi kawasan industri, namun pasca penetapan tersebut kami khawatir jika mereka akan kabur ke kabupaten tentangga," ujar Nyono usai upacara peringatan hari guru di Alun-alun Kabupaten Jombang, Kamis (24/11).
BACA JUGA:
- Perkuat Pembangunan, DPRD Jombang Bahas Raperda Jasa Konstruksi
- Tingkatkan Kualitas Infrastruktur, DPUPR Jombang Sertifikasi 60 Operator Alat Berat
- Lewat Program Balik Gratis 2026, Pemkab Jombang Berangkatkan 300 Warga ke Jakarta
- Pastikan Stabilitas Pangan Jelang Ramadan, Bapanas dan Pemkab Jombang Pantau Harga di Pasar Pon
Kekhawatiran ini menurut Bupati sangat beralasan, pasalnya di kabupaten yang berdampingan dengan Kabupaten Jombang, UMK mereka masih di bawah kabupaten Jombang. Beberapa contoh kabupaten yang umk di bawah Jombang yakni Kabupaten Lamongan pada nilai Rp 1,7 juta, Kota Kediri Rp 1,6 juta dan Kabupaten Kediri 1,6 juta.
"Sebagai langkah antisipasi dari kenaikan UMK tersebut, beberapa asosiasi pengusaha juga sudah kita kumpulkan dan kita ajak rembukan. Beberapa pengusaha juga sudah sepakat dengan besaran UMK tersebut. Saat ini PR Kita hanya bagaimana mengajak invenstor masuk ke Kabupaten Jombang," jelasnya.
Sebelumnya, Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di Jawa Timur Tahun 2017 sudah ditandatangani Gubernur Jatim Soekarwo pada (18/11) silam. UMK Kabupaten Jombang yang sebelumnya Rp Rp 1.924.000 naik 8,3 persen menjadi Rp 2.082.730. (ony/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




