Bupati Sambari dan Wabup Qosim bersama para tamu undangan saat membahas revitalisasi Alun-Alun Gresik. foto: SYUHUD/ BANGSAONLINE
Sementara Ketua Takmir Masjid Jamik, Ustad Reza, juga mendukung revitalisasi Alun-Alun yang akan dilakukan Pemkab. "Namun, kami minta masjid Jamik difungsikan seperti adanya. Bangunan revitalisasi Alun-Alun jangan nyambung ke masjid," paparnya.
Adapun KrisAji, selaku Ketua Masyarakat Pecinta Sejarah Mata Seger, juga mempersilakan pemerintah merevitalisasi Alun-Alun. "Intinya kalau kiai setuju, saya sami'na wa'atho'na (tunduk dan patuh)," katanya.
Mendengar jawaban tersebut, Bupati Sambari kembali menegaskan bahwa proyek revitalisasi tersebut tidak ada unsur politis seperti yang selama ini digembor-gemborkan. "Saya pinjam istilah KH Robbach Ma'sum, hanya al Quran yang tidak bisa dirubah. Artinya apa, kalau setuju monggo. Kalau ditolak akan disampaikan ke DPRD dan Provinsi. Karena kebijakan ini sudah menjadi Perda," katanya.
"Ini kami bangun untuk kepentingan umat, kebaikan Gresik," jelasnya.
Sambari juga menegaskan, bahwa Alun-Alun tidak akan dibangun Islamic Center. "Namun ditata agar lebih baik. Penataan itu tidak akan merubah kondisi Alun-Alun yang sudah ada seperti RTH (ruang terbuka hijau), air mancur, tempat refreshing masyarakat dan lainnya. Namun, justru ditambah agar lebih baik seperti dikasih tempat parkir, jogging track dan sarana pendukung lain," terangnya.
Terkait permintaan pengurus dan takmir Masjid Jamik agar bangunan revitalisasi Alun-Alun tidak terhubung dengan masjid Jamik, Sambari juga memastikan tidak akan terjadi. "Desain awal telah dirubah. Tidak akan sambung dengan masjid. Kalau nanti tetap sambung, maka taruhan jabatan saya," terangnya.
Begitu juga terkait keberadaan PKL di Alun-Alun, Sambari berjanji pihaknya tidak akan lepas tangan. "PKL diperhatikan dan ditata di Jalan Noto Prayitno Kebomas. Untuk tempatnya saat ini masih minta legalitas dari PT. Semen Indonesia," pungkasnya. (hud/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




