Pengamat Politik, Komentator Bola dan Kiai Broker
Setelah Allah berbicara tentang orang-orang pilihan yang mendapat hidayah dan dihadiahi surga sebagai persinggahan terbaik, kini Tuhan membicarakan Muhammad SAW sebagai nabi yang diutus kepada seluruh umat manusia. Pengutusan Muhammad SAW itu dilengkapi dengan wejangan yang menguatkan hati dan memperteguh semangat berdakwah di jalan Allah. Disebutkan kisah umat terdahulu yang kufur dan durhaka, lalu datang nabi pembawa kecerahan. Nah, Muhammad diharap mampu membaca latar belakang mereka dan cerdas mengambil pelajaran dari sejarah masa lalu, “kadzalik arsalnak fi ummah qad khalat min qabliha umam..”.
Dalam masa pemilihan presiden 2014 ini masing-masing kubu mempromosikan kelebihan masing-masing. Mengklaim dirinya paling layak dipilih dengan menyuguhkan pragram-program andalan, meski masih terlihat muluk-muluk dan beraroma pencitraan, sehingga susah diamalkan pada tataran realistik. Pengamat politik yang tak jauh beda dengan komentator bola, tidak pernah berani tegas menentukan calon presiden mana yang lebih unggul, hanya berkomentar sangat normatif dan membual dalam data dan analisis berbagai sisi. Setelah selesai dan diketahui hasilnya, baru mengatakan,: ”nah itulah, seperti yang pernah saya katakan dulu .... kini terbukti dst.”. Tidak sama dengan sebagian Kiai dan Gus yang tegas dan terbuka menerima tender kampanye calon presiden yang dianggap menguntungkan. Mudah-mudahan tidak lagi-lagi umat yang dijual.
Khusus bagi umat umat Islam, tentu saja agama menjadi pertimbangan penting, disamping syarat umum seorang presiden, seperti jujur, bersih, adil, bijak, sehat, mensejahterakan, menjamin keamanan, kedaulatan dan sebagainya. Umat Islam wajib memegangi firman Allah SWT, bahwa orang-orang yahudi dan nasrani itu tidak pernah rela terhadap umat Islam berjaya. Kapanpun dan siapapun, tidak yahudi dan nasrani dulu atau sekarang, (al-Baqarah:120). Mereka merebut kekuasaan dengan jalan apapun, termasuk lewat politik. Walau tidak menampilkan sosok, tapi mengendalikan pemerintahan yang diusung dari belakang layar.
Tips Memilih Capres
Bila ada dua calon presiden yang kelengkapan pribadinya imbang-imbang saja, maka utamakan calon presiden yang lebih sedikit “dugaan” ditunggangi oleh orang-orang non muslim. Mohon ini tidak difahami sebagai penebar isu SARA. Sebab, isu tersebut, selain tidak patut, juga sudah tidak laku di negeri ini. Seruan ini murni sebagai ujud tanggungjawabtafsir al-Qur’an aktual yang secara akademik wajib menyampaikan pesan al-Qur’an secara lugas dan bertanggungjawab.
Ayat ini juga mengisyaratkan agar pembaca mengingat-ingat kembali latar belakang atau sejarah yang pernah terjadi. Sah-sah saja anda melihat partai pengusung masing-masing calon presiden. Sebab kebijakan yang akan diterapkan dalam mengemban amanat pemerintahan tak jauh beda dengan kehendak pengusungnya. Misalnya PDI-Perjuangan sebagai partai pengusung Jokowi, lalu anda menghubung-hubugkan peran Megawati termasuk orang-orang di sekitarnya. Atau menelaah kembali bagaimana Megawati dulu menjadi presiden. Yang nyata, beliau suka menjual aset negara ke investor asing, termasuk kapal tanker, Indosat dan gas yang dampaknya hingga kini sangat buruk. Belum lagi melepas dua pulau karena tidak pecus mempertahankan di pengadilan internasional melawan Malaysia. Lalu anda mengandai-andai: "wah kalau Jokowi menang, jangan-jangan aset negara banyak yang dijuali, kedaulatan negara diremehkan negara tetangga dst..".
Misalnya, Gerinda sebagai pengusung Prabowo, ada Golkar di sana, warisan zaman pak Soeharto yang memimpin dengan tangan militer, banyak menodai hak asasi, loyal memberi subsidi tapi akhirnya kobol-kobol. Krisis moneter menyebabkan pak Harto harus lengser. Lalu anda mengandai-andai: "wah, jangan-jangan kalu Prabowo jadi presiden, orde baru balik lagi dst". Sedangkan kelebihan masing-masing sungguh banyak dan sudah banyak digembar-gemborkan di mana-mana.
Jadi, plus - minus ada pada kedua calon presiden kita. Mereka adalah putera terbaik bangsa. Tapi mereka juga manusia. Yang buruk kita buang dan yang bagus kita tingkatkat. Silakan memilih berdasar agama, niat ibadah membangun negara, agar langkah kita menuju TPS dihitung sebagai ibadah berpahala. Andai dua calon presiden tersebut anda anggap buruk semua, anda tetap wajib memilih salah satu, meski hati anda tidak sreg. Siapapun yang nantinya terpilih, kita semua wajib patuh dan menghormati dan itulah ajaran agama. Tidak boleh ngambek karena kalah dalan pemilihan presiden.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




