Jumat, 04 Desember 2020 23:59

Kenalkan Kebun Hidroponik, Alternatif Pencaharian Nelayan Saat Musim Hujan

Senin, 25 Juni 2018 12:27 WIB
Editor: Abdurrahman Ubaidah
Wartawan: Nur Khasanah Yulistiani
Kenalkan Kebun Hidroponik, Alternatif Pencaharian Nelayan Saat Musim Hujan
Tampak ibu-ibu anggota PKK yang juga istri para nelayan Dungkek usai menyemai bibit tanaman. (foto: ist)

SURABAYA, BANGSSAONLINE.com - Musim hujan sering menjadi permasalahan bagi nelayan, karena cuaca buruk dan gelombang laut meninggi, sehingga nelayan tidak dapat melaut. Masalah ini berdampak besar bagi pendapatan nelayan.

Prihatin dengan permasalahan tersebut, mahasiswa Universitas Airlangga mengenalkan hidroponik kepada nelayan Desa Dungkek, Kabupaten Sumenep sebagai alternatif mata pencaharian saat musim hujan.

Mengutip data BPS Provinsi Jatim tahun 2017 lalu, jumlah penduduk miskin di Kab. Sumenep mencapai 211.920 jiwa, atau sekitar 19,90% dari total jumlah penduduk yang mencapai 1,072 juta jiwa. Angka pengangguran tahun 2017 berada pada angka 20,49% atau berada di posisi ke-35 dari 38 kabupaten-kota se-Jawa Timur.

Salah satu desa penyumbang persentase pengangguran dan kemiskinan di Kab. Sumenep itu adalah Desa Dungkek, Kecamatan Dungkek. Berdasarkan hasil dugaan pengeluaran per kapita, Kecamatan Dungkek menempati posisi dua terbawah dari dua 27 kecamatan lain di Kabupaten Sumenep.

Angka pengangguran dan kemiskinan ini semakin bertambah terutama saat memasuki musim penghujan. Masyarakat yang mayoritas sebagai nelayan tidak memperoleh penghasilan karena tidak bisa pergi melaut mencari ikan.

Melihat permasalahan tersebut, Arkan Fahrian Putra, Siti Khoiriyah, Laila Barokah, Sara Gratia, mahasiswa prodi Tenik Biomedis, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga mengenalkan teknik berkebun dengan hidroponik kepada nelayan Dungkek.

Langkah ini dimaksudkan sebagai alternatif mata pencaharian saat musim hujan. Pengabdian keempat mahasiswa itu dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian masyarakat (PKM-M) dan berhasil lolos untuk mendapat pendanaan dari Kemenristek Dikti.

Proposal itu berjudul "Pengenkepo (Pengenalan Berkebun Hidroponik) pada Nelayan Desa Dungkek sebagai Alternatif Mata Pencaharian saat Musim Hujan."

”Kami berharap berkebun secara hidroponik dapat menjadi solusi nelayan Dungkek, sebab cara ini tidak membutuhkan lahan luas dan tidak membutuhkan tanah sebagai media tanam. Jangka waktu antara penyemaian sampai panen juga cukup singkat. Juga tidak menggunakan pupuk pestisida sehingga aman dan sehat untuk dikonsumsi,” kata Arkan Fahrian Putra, ketua tim PKMM ini.

Program ini dilakukan melalui beberapa kegiatan dengan sasaran 30 orang nelayan Dungkek yang mewakili komunitas disana. Tahap pertama berupa pengenalan berkebun hidroponik dan pembuatan kebunnya.

”Kami mendatangkan pemateri dari Komunitas Hidroponik Surabaya yang diwakili Pak Yoso Susriarto, ketuanya. Disini peserta diajak praktik membuat kebun hidroponik. Tahap kedua yaitu pemanenan, pengolahan, dan pemasaran hasil kebun.

Pada tahap ini peserta diajarkan bagaimana mengolah hasil kebun menjadi olahan masakan untuk meningkatkan nilai jual hasil panen,” tambah Arkan.

Melihat semangatnya nelayan belajar berkebun, tim PKMM Unair optimis kegiatan ini dapat memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi nelayan Dungkek.

Pemberdayaan masyarakat ini dilakukan untuk mencapai tujuan program, yakni menciptakan peluang usaha baru dan alternatif mata pencaharian pada saat nelayan tidak bisa mencari ikan di laut. (yul/dur)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Selasa, 01 Desember 2020 16:52 WIB
PROBOLINGGO, BANGSAONLINE.com – Meletusnya Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, tidak mengakibatkan kenaikan material vulkanik di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo.Namun demikian, status Gunung Bromo tetap level II atau waspada. Sehingga pengunju...
Sabtu, 28 November 2020 22:34 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan --- Nahdlatul Ulama (NU) punya khasanah (bahasa) baru: Neo Khawarij NU. Istilah seram ini diintroduksi KH Imam Jazuli, LC, MA, untuk mestigmatisasi kelompok kritis NU: Komite Khittah Nahdlatul Ulama (KKNU). Khawarij ...
Rabu, 02 Desember 2020 21:44 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*39. walawlaa idz dakhalta jannataka qulta maa syaa-a allaahu laa quwwata illaa biallaahi in tarani anaa aqalla minka maalan wawaladaanDan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ”Masya Allah, ...
Kamis, 03 Desember 2020 15:46 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wono...