Ki Bagong bersama Kades Seno dan tokoh masyarakat sekitar.
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Peringatan Maulud Nabi du Kabupaten Pasuruan identik dengan tradisi ancak atau gunungan. Seperti tradisi Ancak yang digelar di Desa Manaruwi, Bangil, Pasuruan.
Acara tersebut dihadiri Ketua Dewan Kebudayaan dan Kesenian Kab. Pasuruan (DK3P), Ki Bagong Sinukarto. Dalam sambutannya, ia mengajak masyarakat untuk melestarikan tradisi ancak. Sebab menurutnya, tradisi budaya seperti ancak, gunungan, tumpengan, dan kebudayaan tradisional lainnya hampir punah.
BACA JUGA:
- Wali Kota Pasuruan Dorong Perumusan Baju Khas sebagai Identitas Budaya Daerah
- Kenalkan Sejarah P3GI, Pemkot Pasuruan Gelar Pameran Arsip Foto dan Artefak
- Karnival Budaya Hari Jadi ke-1095 Kabupaten Pasuruan Dimeriahkan Hanoman Raksasa
- Hadiri Pagelaran Seni Budaya, Wakil Wali Kota Pasuruan Ingatkan soal ini
"Kalau bukan kita bersama siapa lagi? Makanya kita menyadarkan warga supaya tetap semangat melestarikan tradisi seperti itu," tandas Ki Bagong kepada BANGSAONLINE.com saat ditemui di Desa Manaruwi, Bangil, Pasuruan (29/11).
Ki Bagong menjelaskan bahwa tradisi-tradisi seperti gunungan mempunyai makna luar biasa. "Dengan diadakan tradisi seperti itu, warga menunjukan bahwa di situ terdapat arti pentingnya tali persatuan, persaudaraan, dan kekeluargaan. Maka dari itu, budaya nenek moyang tersebut patut dikembangkan minimal dipertahankan," pesannya.
Pantauan di lapangan, ada ribuan warga Manaruwi yang berbondong-bondong ikut berebut tumpeng yang berisi buah, dan berbagai sembako lainnya.
Tidak ketinggalan pula, Kades Suseno Ali juga ikut berpartisipasi bersama warganya. "Saya gak tahu kalau ada acara gini mas, ini kesadaran warga ku sendiri," tutur Suseno. (afa/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






