ini fakta, mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat. foto:repro dw.de
SURABAYA (bangsaonline)
Dika, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, duduk berhadapan dengan Raisya, mahasiswi perguruan swasta di Surabaya, di food corner, lantai 2 WTC Surabaya.
BACA JUGA:
- 7 Kelebihan dan Kekurangan Realme C100 Berdasarkan Spesifikasinya
- Samsung Galaxy A37 5G: Kamera 50MP Jernih dan AI Paling Canggih untuk Konten Kreator Muda
- Kenali Samsung Galaxy A57 5G, A Series Powerful dengan AI Paling Canggih dan Desain Premium
- Bocoran Desain iPhone Fold Semakin Kuat, Diperkirakan September 2026 Rilis
Kedatangan mereka di WTC adalah untuk upgrade OS smatrphone mereka. Usai urusannya selesai, mereka duduk bersantai di food corner.
Umumnya, sebagai pasangan kekasih, mereka semestinya memanfaatkan waktu bersama mereka untuk bercengkrama. Tetapi, keduanya asyik menunduk, sambil memelototi smartphone masing-masing.
Kadang satu di antara mereka senyum sendiri, karena membaca ‘berita’ lucu di smartphone masing-masing. Dilanjutkan mereka asyik menulis komentar. Hampir setengah jam mereka tak berbicara samasekali.
Lebih parah lagi, terkesan satu keluarga, suami istri dan dua anak, juga duduk di format kursi untuk empat orang. Usai memesan makanan dan minuman, semua asyik dengan smartphone masing-masing. Tanpa komunikasi samasekali.
Sebenarnya, sang ayah atau ibu, kadang menaruh smartphone mereka, sebentar mengobrol, lalu mengambil lagi smartphone. Asyik lagi.
‘Penyakit’ ini sudah mewabah di seluruh lapisan masyarakat. Bahkan di tingkat tertentu, kemungkinan seorang pecandu smartphone perlu bantuan profesional.
Psikiater di Singapura mendorong pihak berwenang urusan kesehatan Singapura untuk secara resmi mengakui bahwa kecanduan internet dan perangkat digital sebagai suatu gangguan jiwa, sebagaimana yang terjadi di negara-negara lain di seluruh dunia.
Singapura dan Hong Kong merupakan kawasan Asia-Pasifik yang tingkat penetrasi smartphone-nya tertinggi di dunia, demikian menurut laporan perusahaan monitoring media Nielsen tahun 2013.
87 persen dari 5,4 juta penduduk Singapura mempunyai ponsel yang dilengkapi internet dengan kamera. Di Amerika Serikat, ada kekhawatiran yang sama tentang dampak smartphone di masyarakat.
Di Singapura, orang menghabiskan waktu rata-rata 38 menit setiap kali mampir di Facebook, hampir dua kali lebih lama dibandingkan orang Amerika Serikat, demikian menurut sebuah studi oleh Experian, perusahaan jasa informasi global.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




