
NGAWI, BANGSAONLINE.com - Alas Srigati atau yang dikenal dengan Alas Ketonggo yang terletak 12 Km arah selatan Kota Ngawi merupakan tempat bersejarah menurut legenda. Hal tersebut nampak dari keyakinan masyarakat Jawa bahwa Alas Ketonggo ini merupakan salah satu dari alas angker atau ‘wingit’ di tanah Jawa.
Hal tersebut terbukti dengan banyaknya situs-situs yang menjadi jujukan para peziarah yang berkunjung di wilayah alas Ketonggo. Yadiman (68), salah satu juru kunci yang ditemui BANGSAONLINE.com pada Sabtu (31/08) menjelaskan asal muasal dari alas Srigati.
"Kepercayaanya, di tempat ini terdapat kerajaan makhluk halus," jelasnya.
Ia mengatakan, Eyang Srigati adalah Priyagung, seorang begawan dari Benua Hindia yang datang ke tanah Jawa. "Beliaulah yang menurunkan Kerajaan-kerajaan di Indonesia mulai dari Pajajaran, Majapahit, Mataram dan seterusnya. Semua kisah Spiritual tertuang di Punden Srigati yang terdapat di Desa Babadan, Kec. Paron. Kab. Ngawi," tuturnya.
Pada malam satu suro seperti ini, Alas Ketonggo selalu ramai dikunjungi peziarah. Saat kesempatan tersebut, Kapolres Ngawi AKBP MB. Pranatal Hutajulu juga mengunjungi Alas Ketonggo atau Srigati untuk memantau keadaan. Ia juga melihat langsung sungai yang menjadi tempat berendam peziarah.
"Kita memantau bahwa kegiatan ini aman dan tertib. Sebab pengunjungnya kan dari luar kota. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," terangnya.
Di dalam areal Srigati atau dikenal dengan alas Ketonggo ini juga terdapat situs Bung Karno (Presiden RI pertama). Menurut warga setempat, situs Bung karno yang dikenal dengan Pesanggrahan Soekarno juga menjadi salah satu jujukan bagi peziarah yang datang pada bulan Suro. Situs tersebut awalnya hanya berbentuk sebuah batu. Karena seringnya dikunjungi peziarah, selanjutnya dibangun semacam pendopo yang dipergunakan untuk berkumpul bagi peziarah yang datang.
"Biasanya pada bulan suro diadakan semacam upacara dari Keraton Solo," urai Mbah Yadiman juru kunci yang berada di areal Srigati.
Menurut kepercayaan dari warga maupun juru kunci yang ada, bahwa Presiden RI pertama tersebut sebelum kemerdekaan mampir ke Srigati untuk berdoa. Akan tetapi hal tersebut belum ada bukti otentik. Tidak ada saksi yang melihat benar tidaknya Bung Karno berdoa sebelum kemerdekaan di areal Srigati tersebut.
Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya sejumlah tokoh tua Ngawi menyepakati titik di mana Bung Karno bersemedi di Ketonggo itu dijadikan Pesanggrahan Soekarno. Di banding Pesanggrahan Srigati, Pesanggrahan Soekarno terlihat lebih sederhana. Hanya ada lima tonggak yang menopang bilik kecil beratap asbes yang tanpa dinding itu. Di tengahnya ada beberapa batu. Dan di depan selalu terpasang bendera merah putih.
Yang pasti di areal hutan milik Perhutani tersebut memang banyak situs atau peninggalan yang menjadi tujuan para peziarah untuk sekedar berdoa. (nal/ian)