PACITAN, BANGSAONLINE.com - Obat merek Ranitidin yang selama ini dikonsumsi masyarakat untuk mengatasi gangguan pencernaan seperti asam lambung tinggi dan maag, dinyatakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengandung N-Nitrosodimethylamine (NDMA) yang menyebabkan kanker.
Kepala Dinas Kesehatan Pacitan, Eko Budiono saat dikonfirmasi membenarkan bahwa BPOM menghentikan peredaran obat Ranitidin. Namun, ia mengaku hingga saat ini belum menerima perintah resmi tentang penarikan obat di pasaran.
Baca Juga: 12 Hari Operasi Tumpas Narkoba, Polres Probolinggo Gulung 4 Pengedar
"Dibenarkan memang Ranitidin memicu kanker hati, tapi tidak semua Ranitidin. Hanya jenis Ranitidin tertentu yang bisa memicu (kanker, Red). Kami belum ada surat edaran tentang penarikan. Itu wewenang BPOM, ya saat ini hanya komunikasi melalui WA (WhatsApp) grup. Ada komunikasi dengan para apoteker, mereka ada wadah yang namanya MESO (monitiring efek samping obat). MESO ini online, jika ada pasien yang terserang efek samping obat, apotek bisa langsung melapor online," kata Eko, Sabtu (12/10).
"Secara fisik, atau petunjuk pada kemasan Ranitidin, tidak dijelaskan adanya komposisi tertulis. Sehingga masyarakat awam tidak dapat mengetahui dan membedakan mana Ranitidin yang berpotensi memicu kanker dan mana yang tidak. Ya itu harus diuji laboratorium. Jadi kami sendiri tidak tahu. Anjurannya masyarakat jangan sembarang beli obat apalagi Ranitidin. Jika ada gangguan perut silakan periksa ke dokter. Dari sana akan dapat resep obat. Dan jika ada reaksi yang tidak sesuai dengan tubuh bisa dikontrol. Kami belum ada perintah penarikan," jelas Eko.
Pantauan awak media di lapangan, beberapa distributor obat Ranitidin sudah menarik produk tersebut dari banyak apotek. "Ranitidin sudah ditarik sama distributornya mas, ya kami masih ada, tapi instruksi dari distributor untuk disimpan dulu," jelas pegawai salah satu apotek di Pacitan. (yun/rev)
Baca Juga: Cek Harga Obat, Polres Kediri Sidak Sejumlah Apotek
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News