MOJOKERTO (BangsaOnline) - Lazimnya, peringatan hari ibu mendapat kado spesial berupa apapun dan darimana pun. Tapi bagi Sukati berharap kado dari pemerintah berupa sekolah gratis buat putrinya yang masih duduk di bangku SDN kelas V merupakan hadiah terbaik. Ya, warga Desa Kejagan, Kecamatan Trowulan, Mojokerto ini sejak ditinggal meninggal suaminya 3 tahun silam, harus banting tulang seorang diri untuk biaya hidup dan menyekolahkan putri bungsunya. Demi bertahan hidup, janda tiga anak berusia 53 tahun ini rela menjadi buruh menyetak bata merah yang umumnya dikerjakan kaum pria.
Ditemui di tempat kerjanya, di sebuah 'linggan' (sebutan tempat membuat bata merah) milik majikannya, Sukati terlihat bergulat dengan pekerjaannya. Terik matahari atau hujan deras tak membuat Sukati patah arang. Sebuah caping yang melekat di kepalanya dan baju lengan panjang bermotif bunga, tak mampu menyembunyikan keletihan ibu tiga anak ini.
''Sudah tiga tahun saya jadi buruh, sejak bapaknya anak-anak meninggal. Saya harus bekerja sendirian," ucap Sukati, Senin (22/12).
Tanpa terasa, wajah dan tangannya kini legam terbakar matahari. Meski demikan, langkah kaki dan gerakan tangannya masih cekatan. Satu per satu, bata yang dia cetak pagi tadi, dia tata untuk dikeringkan. Butuh waktu 3 jam lamanya bagi Sukati untuk menata 500 bata buah tangannya. Untuk meraup upah belasan ribu, janda tiga anak ini harus bekerja sepuluh jam setiap harinya, yakni mulai pukul 06.00-16.00 Wib.
Pagi hari, Sukati harus bergegas ke linggan untuk mencetak bata. Setelah itu, pekerjaan menjemur bata sudah menantinya. Usai istrirahat makan siang, istri almarhum Wuliyono ini harus memasukkan bata yang sudah kering ke dalam linggan agar tidak kehujanan.
"Kalau musim hujan begini, sehari bisa nyetak 500 bata saja sudah bagus. Itu pun dapat upah Rp 15 ribu. Kalau hujan dari pagi, otomatis tidak bisa nyetak, endak dapat apa-apa," tuturnya.






