Viral, Video Pimpinan Pondok Modern Gontor Berapi-Api Minta Kiai Jangan Diajari Pancasila

Viral, Video Pimpinan Pondok Modern Gontor Berapi-Api Minta Kiai Jangan Diajari Pancasila KH Hasan Abdullah Sahal. foto: istimewa

Namun pihak sudah mengklarifikasi. " tidak pernah mengusulkan penggantian Assalamualaikum dengan Salam . Yang disampaikan adalah mengenai kesepakatan-kesepakatan nasional mengenai tanda dalam bentuk salam dalam pelayanan publik, dalam kaitan ini kesepakatannya adalah Salam ," demikian Direktorat Sosialisasi Komunikasi dan Jaringan dalam siaran persnya, Sabtu (22/2/2020).

Awalnya, Yudian menjawab pertanyaan presenter Blak-blakan detikcom Sudrajat perihal salam assalamualaikum di hadapan publik. Yudian mengatakan, assalamualaikum diucapkan secara total sejak era reformasi tanpa pandang agama. Kini, salam justru dilengkapi supaya genap dengan nuansa lima atau enam agama. Menurut Yudian, ini justru menjadi masalah baru. Yudian kemudian sepakat dengan ide salam .

"Iya, Salam . Salam itu kan maksudnya mohon izin atau permohonan kepada seseorang sekaligus mendoakan agar kita selamat. Itulah makna salam. Nah Bahasa Arabnya Assalamualaikum Wr Wb," ujar Yudian dalam video Blak-blakan detikcom.

"Wong Nabi Muhammad SAW saja mendoakan raja Najasi yang Kristen saat wafat. Ada unsur kemanusiaan. Nah kita juga begitu, ngomong Shalom tidak ada unsur teologisnya. Wong kita sampaikan (salam) supaya kita damai. Maaf, bagi orang Kristen mengucapkan salam juga tidak menjadi bagian teologis. Itu kode nasional yang tidak masuk dalam akidah. Kalau bisa dipakai tidak masalah." pungkas Yudian.

Dari pernyataan Yudian seperti tersebut di atas, menegaskan tidak ada satu pun narasi yang semata menyatakan penggantian assalamualaikum dengan salam .

menjelaskan, salam pertama kali dikenalkan oleh Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Dewan Pengarah di hadapan peserta Program Penguatan Pendidikan di Istana Bogor tanggal 12 Agustus 2017.

Salam dilakukan dengan mengangkat lima jari di atas pundak dengan lengan tegak lurus. Makna mengangkat kelima jari di atas pundak adalah sebagai simbol penghormatan seluruh elemen masyarakat terhadap lima sila . Penghormatan dan pelaksanaan sila-sila mesti dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat, mulai dari pejabat negara hingga seluruh anggota masyarakat. (tim)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO