Wali Kota Risma saat melakukan rapat teleconference UCLG Aspac di Balai Kota. foto: ist.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Pandemi Covid-19 membutuhkan penanganan dalam skala lokal. Pasalnya, masing-masing daerah memiliki budaya yang berbeda, sehingga membutuhkan cara penyelesaian masing-masing.
Pendapat itu, menurut Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, disampaikan Prof. Dr. Rajib Shaw dari Keio University, Japan, dalam rapat melalui teleconference yang diselenggarakan oleh United Cities and Local Government (UCLG) Asia Pasific (Aspac), Kamis (09/04).
BACA JUGA:
- Pengendara Motor di Surabaya Meninggal Dunia Usai Adu Banteng dengan Mobil Grand Max
- Revitalisasi Dikebut, 5 Pasar Tradisional Surabaya Ditarget Tuntas Pertengahan Mei 2026
- Modus jadi Teknisi Wifi, Kawanan Rampok di Surabaya Sikat Perhiasan dan Uang Tunai
- Polisi Selidiki Dugaan Pembacokan Maut di Simolawang Surabaya
Pertemuan antar kepala daerah se-Asia Pasifik melalui teleconference tersebut, dalam rangka membahas strategi dan aksi di daerah menghadapi wabah Covid-19.
"Pandemi ini memang global, tapi action harus lokal, karena budaya tiap daerah berbeda. Seperti budaya berpelukan. Makanya, Satpol PP aku suruh ke warung-warung (bagi masker dan sosialisasi) karena budaya orang di Surabaya di warung-warung itu,” kata Risma, Jumat (10/04).
Ia menilai, penanganan Covid-19 antara Surabaya dengan daerah lain pasti juga berbeda. Apalagi, Kota Surabaya memiliki banyak akses masuk, mulai dari pesawat, kapal, kemudian jalan darat. Terlebih, jarak antar daerah juga dekat. “Itulah kenapa pandemik harus diselesaikan dengan cara lokal masing-masing,” ujarnya.
Risma menceritakan, di Guangzhou, China, bisa membangun rumah sakit sendiri, sekaligus mendatangkan petugas medis sendiri dari beberapa kota lainnya. Hal itu, karena adanya kebijakan sentralistik di China.
"Kalau kita tidak bisa dengan cara itu, karena masing-masing daerah juga mengalami (wabah Covid-19) sendiri,” katanya.






