Kamis, 13 Agustus 2020 09:58

Tafsir Al-Kahfi 21: Anjing dan Monumen

Sabtu, 23 Mei 2020 23:04 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Kahfi 21: Anjing dan Monumen
Ilustrasi. foto: Hard Rock FM

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

21. Unzhur kayfa fadhdhalnaa ba’dhahum ‘alaa ba’dhin walal-aakhiratu akbaru darajaatin wa-akbaru tafdhiilaan

Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian (yang lain). Dan kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaan.

TAFSIR AKTUAL

Ayat sebelumnya berkisah tentang pemuda goa bersama anjing mereka lari ke goa terpencil, demi menyelamatkan iman mereka. Lalu keluar ke desa membeli makanan setelah tidur 309 tahun. Kita tahu anjing itu tidak beragama, tapi ikut dimuliakan kayak majikannya, karena dia berbakti. Itu namanya keramat gandhul. Sama dengan ayam kiai yang lebih dihormat ketimbang ayam tetangga, yang terkenal jahat.

Budaya arab memandang anjing sebagai simbol kecerdasan dan kepatuhan tingkat tinggi. Mereka bangga sekali jika berjuluk "anjing". Di kalangan sahabat, ada Dihyah al-Kalby, di kalangan Tabi'in ada mufassir ulung berjuluk al-Kalby, ada syekh al-Kalbany, bahkan kakek Rasulillah SAW ada yang bernama Kilab. Bentuk jamak dari kata "kalb". Maknanya anjing-anjing.

Kontra banget dengan budaya negeri ini. Anjing justru binatang super najis atau mughalladhah. Seseorang menjadi sangat tersinggung dan marah besar bila diidentikkan dengan anjing. Rupanya ada efek dari doktrin fikih Syafi'iy yang me-najismughalladhah-kan anjing, hal mana tak kan terjadi demikian andai yang masuk di negeri fikih Maliky.

Anjing yang divonis sebagai najis mughalladhah itu tidak mengerti "najis itu apa". Juga tidak paham dirinya itu najis atau bukan. Andai bisa protes, maka anjing berkelas akan mengolok kita: Hai orang Islam, hai ustadz, kiai madzhab syafi'iy, mana lebih bersih, mana lebih harum di antara kita. Kami rajin ke salon, creambath, merapikan bulu, membersihkan telinga, dan memotong kuku. Sampoku mahal, sabunku bermerek, makananku bagus, dan seterusnya.

Al-Imam Ibn Araby, seorang sufi besar berteori emanasi (al-faidl), yakni memandang semua yang ada pada alam raya ini adalah pancaran Dzat Allah SWT yang memantul seperti reflektor. Sehingga, seorang sufi tidak lagi memandang sesuatu, kecuali yang terlihat hanya Allah SWT saja.

Sang imam bahkan pernah menggegerkan dunia teologis karena ucapannya yang kontroversi "wa ma al-kalb wa al-khinzir illa ilahuna". Tidaklah anjing dan babi itu, melainkan mereka adalah Tuhan kita.

Ya, karena sang imam sudah terbang ke zona ilahiah. Sehingga tidak ada dalam pandangan beliau, melainkan hanya Allah SWT belaka. Melihat anjing pun adalah Tuhan. Melihat babi pun juga melihat Tuhan. Yang dilihat bukan bodi anjing, melainkan cahaya Allah yang membungkus anjing itu. Lalu memantul ke penglihatan.

*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Rabu, 12 Agustus 2020 20:53 WIB
NGANJUK, BANGSAONLINE.com - Mengantisipasi lonjakan penumpang saat libur panjang sekaligus meningkatkan bentuk pelayanan, KAI Daop 7 Madiun akan mengoperasikan dua KA Brantas, yakni KA 117 dan KA 118 relasi Blitar-Pasar Senen.Manajer Humas PT KAI Dao...
Senin, 10 Agustus 2020 18:53 WIB
Oleh: M Mas'ud AdnanApollinaris Darmawan - seorang kakek – sangat rajin menghina dan memfitnah agama Islam dan Nabi Muhammad. Dari jejak digitalnya, Apollinaris yang non muslim itu kurang lebih 10 tahun menghina Islam dan juga tokoh-tokoh Islam ...
Minggu, 02 Agustus 2020 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Senin, 03 Agustus 2020 11:04 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan ala...